November Special : SUPERHERO!

Minggu pagi di tahun 90an akhir selalu menyenangkan untuk diam di depan televisi. Asyik pegang remote, sembari sarapan pagi. Mungkin kamu juga begitu kan?

Minggu pagi semacam pahlawan di zaman itu. Selalu bisa diandalkan untuk membuat penat selama seminggu menjadi hilang. Aku suka pahlawan, aku suka superhero.

Dan,

bulan ini Inkubuku mengangkat tema Superhero!

Buku dan artikel apa saja yang akan kami ulas di bulan ini?

Apapun masalahmu, seorang superhero akan siap membantu. Seorang superhero bisa saja berbentuk layaknya Spiderman, Gatot kaca, ataupun Upin dan Ipin. Tapi, sejatinya setiap orang adalah superhero bagi dirinya sendiri. Buku bisa jadi alatmu untuk mengatasi masalahmu.

Selamat menjadi superhero! Bila Spiderman punya jaring laba-laba, kamu punya buku untuk jadi superhero!

Selamat membaca dan jadi superhero.

Kunjungan “Studi di Belanda” ke Bandung

Kamis, 23 Oktober 2014, The Netherlands Education Support Office (Nuffic NESO Indonesia) kembali mengunjungi Kota Bandung. Lebih dari 300 orang berkumpul di Aula Barat untuk mendapatkan informasi mengenai kesempatan belajar di Belanda dan tentang program Beasiswa StuNed. Acara ini merupakan pre-event sebelum momen kunjungan delegasi universitas-universitas Belanda ke Bandung pada tanggal 4 November mendatang.

“Belanda adalah tujuan studi yang sangat menarik bagi siswa Indonesia. Belanda memiliki kualitas pendidikan tinggi kelas dunia yang sangat toleran, aman dan berlingkungan internasional, dimana siswa disiapkan untuk menjadi warga dunia. Kedekatan hubungan historis dan budaya antara Indonesia dan Belanda, menjadikan Belanda sebagai ‘home away from home’ untuk orang Indonesia. Intinya, studi di Belanda menawarkan banyak hal” ujar Mervin Bakker selaku Direktur NESO Indonesia.

Nuffic NESO Indonesia juga mengajak calon mahasiswa untuk mendaftar program beasiswa StuNed (Studi di Belanda). Ini adalah program beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Belanda untuk mendanai studi pelajar Indonesia di Belanda untuk gelar Master atau Short Course. StuNed adalah beasiswa berbasis prestasi yang berfokus pada keunggulan (akademik, jenjang karir, penghargaan dan prestasi lainnya) dan area prioritas khusus dalam kerjasama bilateral antara Belanda dan Indonesia, yaitu pengelolaan air, ketahanan pangan, sektor ekonomi, sektor judisial dan hak asasi manusia.

Indy Hardono, koordinator beasiswa NESO menyatakan: “Tujuan dari panitia seleksi StuNed adalah untuk memilih kandidat yang terbaik, yang belajara atau bekerja dalam bidang area prioritas kerjasama bilateral. Program beasiswa kompetitif in mencari kandidat yang berpotensi menjadi pemimpin masa depan Indonesia.” Batas waktu pendaftaran adalah 15 Maret untuk program Master dan 1 Maret untuk Short Course. Untuk memenuhi persyaratan pendaftaran StuNed, pelamar harus memiliki Surat Penerimaan dari Universitas di Belanda. Calon pelamar didorong untuk mendaftar sesegera mungkin ke universitas Belanda.

Selain itu, pada acara tersebut juga disampaikan beberapa pengalaman terkait studi di Belanda oleh para alumni. Rombongan dari FSRD ITB yang baru saja mengikuti Short Course pun ikut sharing mengenai pengalaman-pengalaman yang didapat selama kursus ke museum-museum yang ada di Belanda.

Pada tanggal 4 November 2014, delegasi universitas-universitas Belanda akan mengunjungi Bandung untuk Dutch Placement Days di Grand Royal Panghegar. Acara ini memeberi kesempatan bagi calon mahasiswa untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan bertemu dengan universitas di Belanda. Informasi lebih lanjut mengenai StuNed dan program studi di Belanda dapat dilihat di www.nesoindonesia.or.id/stunded. Calon mahasiswa Indonesia juga dapat menghubungi staf Nuffic NESO Indonesia untuk konseling gratis. (INK)

Raditya Dika si Radikal (ep. 2)

Di artikel sebelumnya Inkubuku membahas sepak terjang Raditya Dika di dunia sastra, kali ini Inkubuku akan membahas sepak terjang Raditya Dika di segmen dunia hiburan yang lain. Apa itu? Ayo simak bersama-sama.

***

Raditya Dika tak henti menggebrak industri hiburan di Indonesia. Setelah berhasil menginspirasi generasi muda dengan aliran sastra “ringan dan menghibur”, Raditya mencoba bereksperimen lebih jauh: Stand Up Comedy.

Komedi Indonesia waktu itu (sebelum kehadiran Radit dan teman-teman Stand Up Comedy), didominasi oleh komedi bergaya slapstick yang kental. Hina sana, hina sini; pukul sana, pukul sini; dorong sana, dorong sini. Paradigma “tawa” adalah buah pelecehan, penghinaan, penderitaan dan diskriminasi terus-menerus dikembangbiakan oleh acara-acara komedi populer. Sebagian besar penonton menikmati. Sebagian lagi jenuh terhadap standardisasi komedi yang terjadi. Mungkin Radit salah satunya.

Akhirnya, bersama Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, dan teman-teman lainnya, Radit menawarkan rasa yang berbeda. Dimulai dari Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) yang digelar oleh salah satu saluran televisi swasta Indonesia, mereka mengambil pertaruhan besar. Sebuah bentuk komedi berbeda, hanya satu orang berdiri di panggung, ditonton jutaan penonton, berbicara sendiri selama 10 sampai 15 menit.  Di luar ekspektasi, penonton memberi apresiasi. Stand Up Comedy kemudian banyak direplikasi dan diduplikasi, dan pastinya dinanti.

Kumpulan Kata-Kata Raditya Dika

Selain Stand Up Comedy, Radit juga bereksperimen dengan sitkom berjudul Malam Minggu Miko, yang diawali sebagai seri video yang diunggah tiap minggu di laman Youtube. Malam Minggu Miko bercerita tentang kehidupan percintaan Miko (Raditya Dika) yang tak kunjung berhasil. Tidak seperti kisah cintanya, ternyata seri Malam Minggu Miko cukup laris manis, hingga berhasil ditayangkan sebagai serial televisi berjudul sama.

Tak bisa dimungkiri lagi, Raditya Dika adalah ikon. Dia berhasil merubah paradigma hiburan menjadi lebih berisi, kaya konten, tapi tetap dikemas dengan gaya yang ringan dan menghibur.

Raditya Dika: Manusia Setengah Salmon

“Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. kita hidup di antaranya.” (hal. 254)

Manusia Setengah Salmon ini merupakan buku karangan Raditya Dika, seorang mahasiswa sekaligus komedian, dan pemain film yang diterbitkan pada tanggal 24 Desember 2011. Manusia Setengah Salmon hadir seraya mengiringi pergantian tahun. Satu momen ketika manusia berpesta merayakan sebuah perpindahan dari tahun yang lama ke tahun yang baru. Manusia Setengah Salmon sukses mengambil titik ‘perpindahan’ tersebut dengan sangat elegan dan mengharukan.

Manusia_Setengah_Salmon_film

Buku ini adalah buku keenam yang dihasilkan dari tangan dingin, becek, dan lembab seorang Raditya Dika. Buku ini bergenre komedi, seperti buku-bukunya yang terdahulu, dan judulnya pun tidak kalah aneh, Manusia Setengah Salmon. Kenapa Salmon? Mungkin perlahan-lahan mengikuti tulisan ini kalian dapat gambaran kenapa hewan ini yang “terpilih” untuk melengkapi keabsurdan judul-judul buku Raditya Dika.

Adakah yang berbeda?

Secara bentuk (form), buku ini menyajikan sesuatu yang baru. Raditya Dika menyertakan beberapa bab pendek yang berisi tweet serta ulasannya. Masing-masing bab juga independen atau berdiri sendiri. Jadi, buku ini tidak disusun berdasarkan alur cerita atau kronologis. Namun, hal tersebut sepertinya tidak menghalangi pembacanya untuk tertawa sepuas-puasnya dan meneteskan air mata saat membaca setiap babnya.

Secara isi atau konten, Raditya Dika menunjukan kematangannya sebagai penulis komedi. Lelucon-leluconnya tidak lagi semata-mata untuk menghibur tapi juga sebagai perenungan. Raditya Dika telah tumbuh dewasa, baik secara personal maupun karya.

“Seperti rumah ini yang jadi terlalu sempit buat keluarga kami, gue juga menjadi terlalu sempit buat dia. Dan, ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat lain yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya. Rumah ini tidak salah, gue dan dia juga tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal yang dirasa sudah tidak lagi saling menyamankan tetap dipertahankan untuk bersama. Mirip seperti gue dan dia. Dan dia, memutuskan untuk pindah” (hal. 29)

Buku ini secara garis besar bercerita tentang proses ‘perpindahan’ dalam kehidupan yang dialami oleh Raditya Dika. Salah satu bagian yang menjadi primadona adalah ketika Raditya Dika mencoba menceritakan tentang kegelisahannya sewaktu ia baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya. Sama seperti kebanyakan orang, hal pertama yang dirasakan ketika putus cinta adalah kesedihan, kegundahan, dan kekecewaan.

Tapi, Manusia Setengah Salmon berhasil meyakinkan bahwa tidak semua hal menyakitkan harus berakhir dengan kesedihan. Seperti pada cerita yang berjudul Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat. Bercerita tentang dua peristiwa yang sama tapi berbeda konteks, putus cinta dan pindah rumah.

Secara kontekstual, tidak ada kesamaan antara keduanya. Tetapi buku ini secara gamblang menjelaskan bahwa kedua peristiwa tersebut adalah hal yang serupa. Iya, perpindahan.

“Putus cinta sejatinya adalah sebuah perpindahan. Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. Ujung-ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong.” – Raditya Dika

Selain cerita tentang realita percintaan Eros yang dialaminya, Radit juga bercerita tentang bentuk cinta yang lain yaitu cinta keluarganya kepada Radit. Salah satu bab yang menarik adalah Kasih Ibu Sepanjang Belanda yang bercerita tentang perhatian ibunya yang jadi terasa menyebalkan ketika dia pergi ke Belanda. Singkat cerita, ada sebuah peristiwa yang akhirnya menyadarkan Radit, dan juga kita, bahwa sebenarnya perhatian orangtua yang berlebihan adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.

Kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orangtua. Kemungkinan yang paling besar adalah orangtua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orangtua kita bakal ninggalin kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengar suara menyebalkan mereka kembali.” (hal. 133)

Akhir kata, lewat buku ini Raditya Dika kembali sukses menuangkan visinya yang nyeleneh terhadap kehidupan. Raditya Dika tidak berusaha menggurui pembacanya, Ia berusaha untuk berdialog. Dan, dalam dialognya, gelak tawa adalah perantara yang paling baik untuk manusia mengerti bahwa ada sesuatu yang sangat berharga dalam ‘perpindahan’.

Seperti Salmon yang selalu berpindah untuk menjamin kelangsungan hidupnya, manusia juga serupa. Hidup terus akan berubah, dan terkadang perubahan itu selalu membawa kejutan-kejutan baru yang akan mengisi ruang kosong dalam hati kita.

“Gue berhenti melamun, melanjutkan memasukkan beberapa buku ke kardus. Lalu, gue melihat Nyokap, mengangguk pelan. Kardus terakhir gue tutup dengan lakban, lalu gue angkat untuk bergabung dengan yang lainnya. Sambil berharap, tidak ada yang tertinggal.” – Raditya Dika

Tapi itu menurut saya, jangan percaya! Langsung saja beli bukunya dan temukan sendiri hal-hal yang menarik untuk kalian !

Selamat Membaca.

***

Judul Buku    : Manusia Setengah Salmon

Penulis           : Raditya Dika

Penerbit         : Gagas Media

Tahun terbit  : 2011

Tebal               : 253 halaman

Radikus Makan Kakus, Bukan Binatang Biasa


Beberapa menit kemudian kelas dimulai. Kayaknya ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell. Baru masuk aja udah berisik banget.

‘Selamat siang, saya Dika,’ gue bilang ke kelas 1 SMP yang baru gue ajar ini. ‘Saya guru untuk pelajaran ini.’

‘Siang, Pak!’ kata anak cewek yang duduk di depan.

‘Jangan Pak. Kakak aja,’ kata gue sok imut. Gue lalu mengambil absensi dan menyebutkan nama mereka satu per satu.

‘Sukro,’ gue manggil.

‘Iya, Kak.’ Sukro menyahut.

‘Kamu kacang apa manusia?’

‘Hah? Maksudnya?’

‘Engga, habis namanya Sukro, kayak jenis kacang,’ kata gue, kalem. ‘Oke, kacang apa manusia?’

‘Ma-manusia, Kak.’

‘KURANG KERAS!’ Gue menyemangatinya.
‘MANUSIA, KAK!’

Satu kelas hening.

Lagi-lagi kita memasuki ranah keabsurdan Raditya Dika yang lain. Radikus Makan Kakus, buku karya Raditya ini dari awal telah memberikan impresi buku abnormal. Pilihan untuk menyelipkan kata “Kakus” ke dalam judul buku bergenre komedi ini membuat saya bertanya-tanya apa yang akan dibahas buku ini? Masalah pencernaan? sembelit? Atau kecepirit?

Ditambah lagi dengan subteks Bukan Binatang Biasa. Apakah buku ini tentang kakus buat hewan? tapi ini bukan binatang biasa jadi apa kakusnya nempel di langit-langit terus harus salto dua kali baru bisa sampai di kakus tersebut?

Hanya sampai situ saya berusaha menebak-nebak, takut imajinasi saya bertambah liar. Akhirnya, dengan terpaksa, saya buka juga buku ini untuk memuaskan keingintahuan saya tentang perihal kakus-kakus ini. Tapi, sebelum mulai ke halaman pertama, saya baca judul buku ini untuk kedua kalinya.

Radikus Makan Kakus. Well, It has a nice ring to it.

url

Buku ini diawali dengan pengalaman Radit menjadi badut untuk meneliti bagaimana hidup orang yang berpakaian menjadi badut. Radit akhirnya berhasil mendapatkan kostumnya setelah sempat ditolak oleh yang mempunyai kostum karena heran. Akhirnya radit memutuskan untuk kayang di Monas. Setelah naik bajaj dan busway, yg dimana selalu diledek, akhirnya misinya tersebut sukses.

Ada juga cerita tentang microwave yang sangat menyelamatkan hidupnya saat tinggal di Australia. Pengalaman bersama adik-adiknya saat terjebak banjir juga sangat menggugah karena dia sadar bahwa sudah lama tidak bermain bersama adik-adiknya. Pengalaman bersama adiknya Anggi yang mengarang cerita Sekolah Hantu juga akan membuat ketawa.

Radit, dalam salah satu babnya, menjadi Tabib yang jawaban terhadap pertanyaannya sangat-sangat absurd. Di bab akhir buku yang berjudul “Bukan Binatang Biasa” menceritakan perjuangan Radit untuk lulus UI dan akhirnya diterima.

Secara pribadi, saya suka cara-cara Radit mengemas sudut pandangnya yang cukup menarik lewat kelakuan-kelakuan konyol dan lelucon-lelucon ringan. Radit membahas sesuatu yang taken for granted buat orang lain, misal kakus, feces, atau badut, menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Radit membuatnya menjadi sesuatu yang “terlihat”.

Misal, cerita tentang keinginannya untuk menjadi badut pada bab awal. Radit menuliskannya keingintahuannya tentang kehidupan badut, yang notabene adalah orang yang berperilaku berbeda untuk tujuan mengundang tawa, dengan cara menggunakan kostum badut. Hal yang menarik adalah Radit sebenarnya tahu bukan kostum badut itu yang menjadikan dia badut, tapi pencariannya terhadap kostum badut sendiri itu sendiri yang mencerminkan semuanya.

Terus kemudian dia kayang di monas. Hal itu aneh, berbeda, itu badut. Anehnya, penggemar raditya dika juga ikut-ikutan kayang (dalam bab terakhir buku ini ditunjukan foto-fotonya), walaupun bukan di Monas. Mereka aneh, berbeda. Mereka badut.

Dah bahkan, semua orang, disadari atau tidak, pernah menjadi “badut” dalam kisah kehidupannya. Raditya Dika tahu itu dan dia bagikan lewat bukunya ini.

Apakah arti Hidup? Mungkin pertanyaan itu tidak termaksudkan untuk dijawab. – Raditya Dika

Kesimpulannya buku ini bukanlah buku komedi terlucu sepanjang masa atau terlucu dari kumpulan buku-buku karya radit, tapi buku ini tetap menarik dengan judul yang tidak kalah menariknya.

Tapi itu menurut saya, jangan percaya! Langsung saja beli bukunya dan temukan sendiri apa yang menraik buat kalian!

Selamat Membaca.

 ***

Judul buku     : Radikus Makan Kakus

Penulis            : Raditya Dika

Penerbit          : Gagas Media

Tahun terbit  : 2007

Tebal               : 230 halaman