Raditya Dika: Manusia Setengah Salmon


“Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. kita hidup di antaranya.” (hal. 254)

Manusia Setengah Salmon ini merupakan buku karangan Raditya Dika, seorang mahasiswa sekaligus komedian, dan pemain film yang diterbitkan pada tanggal 24 Desember 2011. Manusia Setengah Salmon hadir seraya mengiringi pergantian tahun. Satu momen ketika manusia berpesta merayakan sebuah perpindahan dari tahun yang lama ke tahun yang baru. Manusia Setengah Salmon sukses mengambil titik ‘perpindahan’ tersebut dengan sangat elegan dan mengharukan.

Manusia_Setengah_Salmon_film

Buku ini adalah buku keenam yang dihasilkan dari tangan dingin, becek, dan lembab seorang Raditya Dika. Buku ini bergenre komedi, seperti buku-bukunya yang terdahulu, dan judulnya pun tidak kalah aneh, Manusia Setengah Salmon. Kenapa Salmon? Mungkin perlahan-lahan mengikuti tulisan ini kalian dapat gambaran kenapa hewan ini yang “terpilih” untuk melengkapi keabsurdan judul-judul buku Raditya Dika.

Adakah yang berbeda?

Secara bentuk (form), buku ini menyajikan sesuatu yang baru. Raditya Dika menyertakan beberapa bab pendek yang berisi tweet serta ulasannya. Masing-masing bab juga independen atau berdiri sendiri. Jadi, buku ini tidak disusun berdasarkan alur cerita atau kronologis. Namun, hal tersebut sepertinya tidak menghalangi pembacanya untuk tertawa sepuas-puasnya dan meneteskan air mata saat membaca setiap babnya.

Secara isi atau konten, Raditya Dika menunjukan kematangannya sebagai penulis komedi. Lelucon-leluconnya tidak lagi semata-mata untuk menghibur tapi juga sebagai perenungan. Raditya Dika telah tumbuh dewasa, baik secara personal maupun karya.

“Seperti rumah ini yang jadi terlalu sempit buat keluarga kami, gue juga menjadi terlalu sempit buat dia. Dan, ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat lain yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya. Rumah ini tidak salah, gue dan dia juga tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal yang dirasa sudah tidak lagi saling menyamankan tetap dipertahankan untuk bersama. Mirip seperti gue dan dia. Dan dia, memutuskan untuk pindah” (hal. 29)

Buku ini secara garis besar bercerita tentang proses ‘perpindahan’ dalam kehidupan yang dialami oleh Raditya Dika. Salah satu bagian yang menjadi primadona adalah ketika Raditya Dika mencoba menceritakan tentang kegelisahannya sewaktu ia baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya. Sama seperti kebanyakan orang, hal pertama yang dirasakan ketika putus cinta adalah kesedihan, kegundahan, dan kekecewaan.

Tapi, Manusia Setengah Salmon berhasil meyakinkan bahwa tidak semua hal menyakitkan harus berakhir dengan kesedihan. Seperti pada cerita yang berjudul Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat. Bercerita tentang dua peristiwa yang sama tapi berbeda konteks, putus cinta dan pindah rumah.

Secara kontekstual, tidak ada kesamaan antara keduanya. Tetapi buku ini secara gamblang menjelaskan bahwa kedua peristiwa tersebut adalah hal yang serupa. Iya, perpindahan.

“Putus cinta sejatinya adalah sebuah perpindahan. Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. Ujung-ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong.” – Raditya Dika

Selain cerita tentang realita percintaan Eros yang dialaminya, Radit juga bercerita tentang bentuk cinta yang lain yaitu cinta keluarganya kepada Radit. Salah satu bab yang menarik adalah Kasih Ibu Sepanjang Belanda yang bercerita tentang perhatian ibunya yang jadi terasa menyebalkan ketika dia pergi ke Belanda. Singkat cerita, ada sebuah peristiwa yang akhirnya menyadarkan Radit, dan juga kita, bahwa sebenarnya perhatian orangtua yang berlebihan adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.

Kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orangtua. Kemungkinan yang paling besar adalah orangtua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orangtua kita bakal ninggalin kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengar suara menyebalkan mereka kembali.” (hal. 133)

Akhir kata, lewat buku ini Raditya Dika kembali sukses menuangkan visinya yang nyeleneh terhadap kehidupan. Raditya Dika tidak berusaha menggurui pembacanya, Ia berusaha untuk berdialog. Dan, dalam dialognya, gelak tawa adalah perantara yang paling baik untuk manusia mengerti bahwa ada sesuatu yang sangat berharga dalam ‘perpindahan’.

Seperti Salmon yang selalu berpindah untuk menjamin kelangsungan hidupnya, manusia juga serupa. Hidup terus akan berubah, dan terkadang perubahan itu selalu membawa kejutan-kejutan baru yang akan mengisi ruang kosong dalam hati kita.

“Gue berhenti melamun, melanjutkan memasukkan beberapa buku ke kardus. Lalu, gue melihat Nyokap, mengangguk pelan. Kardus terakhir gue tutup dengan lakban, lalu gue angkat untuk bergabung dengan yang lainnya. Sambil berharap, tidak ada yang tertinggal.” – Raditya Dika

Tapi itu menurut saya, jangan percaya! Langsung saja beli bukunya dan temukan sendiri hal-hal yang menarik untuk kalian !

Selamat Membaca.

***

Judul Buku    : Manusia Setengah Salmon

Penulis           : Raditya Dika

Penerbit         : Gagas Media

Tahun terbit  : 2011

Tebal               : 253 halaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s