Raditya Dika si Radikal


180px-Radith

Raditya Dika. Siapa yang tidak kenal dengan makhluk tidak tampan tapi berselera humor tinggi ini? Wajahnya yang carut-marut seringkali menghiasi layar kaca anda. Dari iklan mie instan sampai ajang pencarian bakat, selalu ada Raditya Dika. Siapa sih sebenarnya dia?

Dika Angkasaputra Moerwani atau lebih dikenal dengan Raditya Dika lahir di Jakarta, 28 Desember 1984. Radit, selain menekuni dunia literasi, kini telah mengepakan sayapnya ke dunia komedi, sinetron, dan perfilman. Radit juga pernah membintangi beberapa iklan, seperti salah satu produk mie instan. Namun berbeda dengan produk yang diiklankannya, kesuksesan yang kini dirasakan oleh Radit tidaklah instan.

Tahun 2005, Gagasmedia menerbitkan buku pertama Raditya Dika berjudul Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh yang materi bukunya adalah kompilasi dari blog Radit yang telah mendapat penghargaan Indonesian Blog Award pada tahun sebelumnya. Buku tersebut sukses besar. Nama Raditya Dika mencuat ke dalam daftar penulis muda berbakat di Indonesia.

Tidak berselang lama, pria penyuka pancake durian ini mengeluarkan kembali sebuah buku berjudul Cinta Brontosaurus. Buku keduanya ini lebih menitikberatkan tentang perjalanan cinta seorang Raditya Dika. Buku kedua ini juga sukses besar. Begitu pula buku-bukunya yang lain, yaitu: Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa (2007), Babi Ngesot (2008), Marmut Merah Jambu (2010), Manusia Setengah Salmon (2011).

Tapi, apa yang membuat Raditya Dika begitu spesial?

Absurd.

Satu kata itu cukup untuk mewakili karakter seorang Raditya Dika yang begitu berwarna, alasan mengapa karya-karya Raditya Dika begitu menarik, terutama untuk kaum remaja. Gaya menulisnya yang begitu mengalir dan jujur, dengan kata-kata yang mudah, dengan humor yang terasa tanpa paksaan, membuat cerita yang disampaikannya begitu familiar untuk para pembacanya.

Dan yang paling penting, keikhlasannya untuk menertawakan diri sendiri, ini radikal. Belum ada penulis sebelum Radit yang mempermalukan dirinya sendiri dalam tulisan. Absurd.

Itulah yang membuat gaya bertutur Raditya Dika sangat kuat. Saking kuatnya cara bertutur Radit, cerita hidup Radit menjadi bagian dari cerita hidup pembacanya.

Kesuksesan Radit sebagai penulis ini kemudian menginspirasi banyak orang. Setelah buku-bukunya booming di pasaran, seakan dunia sastra Indonesia diterjang sebuah gelombang gaya sastra yang baru, Raditism (istilah penulis).

Banyak penulis-penulis baru bermunculan dengan gaya bertutur yang mirip (atau dimirip-miripkan) dengan Raditya Dika. Tidak bisa dimungkiri, kehadiran seorang Raditya Dika menjadi tonggak sejarah baru dalam budaya pop Indonesia. Raditya Dika telah merevolusi Industri Literasi di Indonesia.

Mau tahu apalagi sepak terjang Raditya Dika di Industri Hiburan di Indonesia? Tunggu saja di artikel Inkubuku berikutnya.

Selamat Membaca

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s