Artikel

Kunjungan “Studi di Belanda” ke Bandung

Kamis, 23 Oktober 2014, The Netherlands Education Support Office (Nuffic NESO Indonesia) kembali mengunjungi Kota Bandung. Lebih dari 300 orang berkumpul di Aula Barat untuk mendapatkan informasi mengenai kesempatan belajar di Belanda dan tentang program Beasiswa StuNed. Acara ini merupakan pre-event sebelum momen kunjungan delegasi universitas-universitas Belanda ke Bandung pada tanggal 4 November mendatang.

“Belanda adalah tujuan studi yang sangat menarik bagi siswa Indonesia. Belanda memiliki kualitas pendidikan tinggi kelas dunia yang sangat toleran, aman dan berlingkungan internasional, dimana siswa disiapkan untuk menjadi warga dunia. Kedekatan hubungan historis dan budaya antara Indonesia dan Belanda, menjadikan Belanda sebagai ‘home away from home’ untuk orang Indonesia. Intinya, studi di Belanda menawarkan banyak hal” ujar Mervin Bakker selaku Direktur NESO Indonesia.

Nuffic NESO Indonesia juga mengajak calon mahasiswa untuk mendaftar program beasiswa StuNed (Studi di Belanda). Ini adalah program beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Belanda untuk mendanai studi pelajar Indonesia di Belanda untuk gelar Master atau Short Course. StuNed adalah beasiswa berbasis prestasi yang berfokus pada keunggulan (akademik, jenjang karir, penghargaan dan prestasi lainnya) dan area prioritas khusus dalam kerjasama bilateral antara Belanda dan Indonesia, yaitu pengelolaan air, ketahanan pangan, sektor ekonomi, sektor judisial dan hak asasi manusia.

Indy Hardono, koordinator beasiswa NESO menyatakan: “Tujuan dari panitia seleksi StuNed adalah untuk memilih kandidat yang terbaik, yang belajara atau bekerja dalam bidang area prioritas kerjasama bilateral. Program beasiswa kompetitif in mencari kandidat yang berpotensi menjadi pemimpin masa depan Indonesia.” Batas waktu pendaftaran adalah 15 Maret untuk program Master dan 1 Maret untuk Short Course. Untuk memenuhi persyaratan pendaftaran StuNed, pelamar harus memiliki Surat Penerimaan dari Universitas di Belanda. Calon pelamar didorong untuk mendaftar sesegera mungkin ke universitas Belanda.

Selain itu, pada acara tersebut juga disampaikan beberapa pengalaman terkait studi di Belanda oleh para alumni. Rombongan dari FSRD ITB yang baru saja mengikuti Short Course pun ikut sharing mengenai pengalaman-pengalaman yang didapat selama kursus ke museum-museum yang ada di Belanda.

Pada tanggal 4 November 2014, delegasi universitas-universitas Belanda akan mengunjungi Bandung untuk Dutch Placement Days di Grand Royal Panghegar. Acara ini memeberi kesempatan bagi calon mahasiswa untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan bertemu dengan universitas di Belanda. Informasi lebih lanjut mengenai StuNed dan program studi di Belanda dapat dilihat di www.nesoindonesia.or.id/stunded. Calon mahasiswa Indonesia juga dapat menghubungi staf Nuffic NESO Indonesia untuk konseling gratis. (INK)

Raditya Dika si Radikal (ep. 2)

Di artikel sebelumnya Inkubuku membahas sepak terjang Raditya Dika di dunia sastra, kali ini Inkubuku akan membahas sepak terjang Raditya Dika di segmen dunia hiburan yang lain. Apa itu? Ayo simak bersama-sama.

***

Raditya Dika tak henti menggebrak industri hiburan di Indonesia. Setelah berhasil menginspirasi generasi muda dengan aliran sastra “ringan dan menghibur”, Raditya mencoba bereksperimen lebih jauh: Stand Up Comedy.

Komedi Indonesia waktu itu (sebelum kehadiran Radit dan teman-teman Stand Up Comedy), didominasi oleh komedi bergaya slapstick yang kental. Hina sana, hina sini; pukul sana, pukul sini; dorong sana, dorong sini. Paradigma “tawa” adalah buah pelecehan, penghinaan, penderitaan dan diskriminasi terus-menerus dikembangbiakan oleh acara-acara komedi populer. Sebagian besar penonton menikmati. Sebagian lagi jenuh terhadap standardisasi komedi yang terjadi. Mungkin Radit salah satunya.

Akhirnya, bersama Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, dan teman-teman lainnya, Radit menawarkan rasa yang berbeda. Dimulai dari Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) yang digelar oleh salah satu saluran televisi swasta Indonesia, mereka mengambil pertaruhan besar. Sebuah bentuk komedi berbeda, hanya satu orang berdiri di panggung, ditonton jutaan penonton, berbicara sendiri selama 10 sampai 15 menit.  Di luar ekspektasi, penonton memberi apresiasi. Stand Up Comedy kemudian banyak direplikasi dan diduplikasi, dan pastinya dinanti.

Kumpulan Kata-Kata Raditya Dika

Selain Stand Up Comedy, Radit juga bereksperimen dengan sitkom berjudul Malam Minggu Miko, yang diawali sebagai seri video yang diunggah tiap minggu di laman Youtube. Malam Minggu Miko bercerita tentang kehidupan percintaan Miko (Raditya Dika) yang tak kunjung berhasil. Tidak seperti kisah cintanya, ternyata seri Malam Minggu Miko cukup laris manis, hingga berhasil ditayangkan sebagai serial televisi berjudul sama.

Tak bisa dimungkiri lagi, Raditya Dika adalah ikon. Dia berhasil merubah paradigma hiburan menjadi lebih berisi, kaya konten, tapi tetap dikemas dengan gaya yang ringan dan menghibur.

Raditya Dika dan Blog!

Raditya Dika merupakan salah satu nama yang tidak bisa dihapuskan dari sejarah tulis menulis di blog. Blog pertamanya, kambingjantan.blogspot.com telah mengantarkannya pada tahap kesuksesannya saat ini. Hingga hari ini, Raditya Dika masih aktif menulis di blognya yang baru, yaitu Radityadika.com.

Berikut ini merupakan tips ngeblog ala Raditya Dika.

raditya-dika

1. Temukan ciri khasmu

Jangan jadi Raditya Dika KW super. Tulisanmu akan tetap dilihat seperti Radit, jadilah diri sendiri. Tidak ada tulisan yang buruk, hanya saja kita perlu cari tahu dimana para penggemar kita berada.

2. Kalimat pembuka yang memikat

Dalam menulis, kalimat pembuka itu ibarat kail. Banyak banget blog yang ada saat ini, dan tiap pembaca bebas mau pilih blog manapun juga. Kalimat pembuka yang memikat akan memberikan impresi yang baik bagi para pembaca blogmu.

3. Hemat kata

Hemat tidak sama dengan pelit. Gunakan kata seefisien mungkin. Semakin cepat pembacamu terpuaskan, ia akan membaca tulisan-tulisanmu yang lain.

4. Konsisten

Ini yang sulit. Disiplin untuk menulis itu penting. Jangan biarkan pembacamu diambil orang lain. Selain itu, konsisten juga mampu untuk meningkatkan kemampuan kita dalam menulis.

Nah, itu tadi tips menulis kreatif ala Raditya Dika!

Selamat mencoba ya pembaca 😀

Sumber : http://radityadika.com/ebookmk

Babi Ngesot – Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang

Tiap kali ngeliat pocong nongol pasti mereka jerit-jerit. Ngeliat kuntilanak, langsung ngibrit ke sana-sini. Gara-gara ini gue jadi punya ide. Mungkin. Seharusnya ada makhluk halus lain yang bisa nyari duit TAPI dipadukan dengan makhluk halus yang lebih menyeramkan. Biar kalo ketahuan pas lagi nyolong… orang ngibrit ketakutan. Babi ngesot, misalnya. (Hal. 220)

Genre misteri mulai populer di Indonesia pada awal tahun 2000-an dengan diramaikannya bioskop dengan film-film horor. Mulai dari jelangkung, kuntilanak, pocong, hingga suster ngesot dan teman-teman gaib lainnya sempat menjadi ikon yang kuat menghasilkan efek merinding.

Raditya Dika, di tahun 2008 pun latah menghasilkan karya berjenis misteri. Namun ia adalah seorang Raditya Dika, dengan apapun yang ia ciptakan pasti tidak jauh dari bagaimana ia menjalani hidupnya : anomali.

Babi Ngesot – Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang adalah buku keempat karya penulis komedi bergaya khas ini. Dalam bukunya ini, Raditya Dika menyajikan sekumpulan cerita pendek yang menceritakan berbagai jenis ketakutan yang ia alami dalam hidupnya yang absurd dan asal.

Bukan hanya ketakutan akan hal gaib –yang sama sekali tidak membuat bulu kuduk merinding-, Radit juga menceritakan ketakutannya akan hal lain. Misalnya ketakutannya kepada kakak kelas ketika ia baru masuk SMA dan bagaimana ia mengatasi fobia klasik yang umum dialami laki-laki : perempuan. Dan tentu saja, semua ditulis dengan gayanya yang semau gue.

Tidak seluruhnya cerita berjenis misteri. Dalam 17 kisah pendek dalam buku ini, Raditya Dika menceritakan pengalaman bodohnya dalam menghadapi setan poni, orang kesurupan, mimpi besarnya untuk memelihara tuyul, dan konflik abstrak lainnya.

Bukan hanya cerita pendek, buku ini juga memberi kejutan manis berupa komik ilustrasi di setiap cerita. Komik gaya hiperbola dan ilustrasi kecil di setiap akhir cerita disajikan oleh illustrator Adriano Rudiman. Komik-komik ini benar-benar menjadi nilai tambah dalam buku ini.

Dan ada dua hal yang tidak pernah absen dari tulisan Raditya Dika. Yang pertama adalah keluarganya. Edgar, Anggi dan Ingga, serta orang tua Raditya Dika yang berbagi gen-kurang-waras dengannya selalu mewarnai setiap buku yang ia tulis.

Hal kedua yang tidak pernah absen, ada yang tahu? Tentu saja, cinta. Love life Raditya Dika memang tidak pernah membuat pembaca bosan. Saking hebohnya kisah percintaan Radit, terdapat dua buku yang berisi kehidupan romantikanya, yaitu Cinta Brontosaurus dan Marmut Merah Jambu.

***

Judul Buku        : Babi Ngesot

Penulis               : Raditya Dika

Penerbit             : Bukuné

Tahun terbit      : 2008

Tebal Halaman : 240

Marmut Merah Jambu

Jatuh cinta merupakan sekumpulan aksi dan reaksi yang rumit. Kadang tidak terbalas, tidak bertahan lama, atau sesimpel tidak tersampaikan. Dengan gift yang ia miliki, Raditya Dika membuat semua aksi-reaksi itu menjadi sederhana.

Masih menyisipkan jenis binatang pada judul bukunya, Raditya Dika memberikan kesan yang sweet dengan menamai buku kelimanya Marmut Merah Jambu. Kesan tersebut tepat dengan tema yang dibawa oleh penulis kelahiran 28 Desember 1984 ini, yaitu jatuh cinta. Masih sama dengan buku-buku sebelumnya, buku ini berisi sekumpulan cerita pendek tentang kehidupan Raditya Dika  yang sebagian besar adalah pengalaman Radit dalam berjatuh cinta.

Petualangan cinta Radit dalam Marmut Merah Jambu dimulai dari cinta monyetnya waktu SMP, hingga cerita bagaimana ia bertemu dengan pacarnya pada saat itu (sekitar tahun 2010) yang ia samarkan sebagai Shero dalam buku ini. Pengalaman cinta Radit –yang kebanyakan tidak mulus- ia ceritakan dengan gayanya yang khas, all funny and clowny. Namun dibalik semua komedi Radit selalu memiliki pesan manis di akhir cerita.

Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian. (Hal. 15)

Selain tentang jatuh cinta, dalam buku ini Raditya Dika yang tidak pernah absen menceritakan keluarganya juga memberikan satu cerita pendek yang mengisahkan Edgar, adik Radit yang paling kecil, ketika akan disunat. Selain itu ada pula cerita tentang bagaimana buku pertama karya Radit, Kambing Jantan, akhirnya berhasil difilmkan.

Buku Marmut Merah Jambu merupakan buku yang proses menulisnya membutuhkan waktu yang paling lama dibandingkan dengan buku-buku Raditya Dika sebelumnya. Penulisan buku ini memakan waktu 2 tahun. Kebanyakan cerita yang ia tulis dalam buku ini belum ia tulis dimana-mana, hanya beberapa bagian yang telah ia tulis di blognya, tetapi mengalami perubahan agar lebih menarik.

Dalam buku ini, terutama pada bagian dimana ia menceritakan pertemuannya dengan Shero, Raditya Dika memberitahu pada pembaca bahwa dibalik semua image konyol yang menempel pada dirinya, ia selalu ingin serius jika sudah berhadapan dengan the one. And trust me, he is one of the sweetest guy alive.

***

Judul Buku         : Marmut Merah Jambu

Penulis                 : Raditya Dika

Penerbit              : Bukuné

Tahun terbit       : 2010

Tebal Halaman : 222