Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh


Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh

“Ada yang saling membenci karena Cinta.”

“Ada yang bunuh-bunuhan karena Cinta.”

“Peperangan atas nama Cinta.”

“Gila. Jadi substansi apa itu sebenernya?!”

“Menurutku, Cinta adalah energi dasar. Tunggal. Kebencian pun berasal dari energi yang sama, hanya ia mengalami proses saturasi. Dan semua pemilihan kategori cinta sesungguhnya adalah satu zat yang sama dengan kadar polusi berbeda-beda. Polusi itu tercipta di pikiran kita. Jadi, apabila pemilhan-pemilahan tadi lenyap, maka yang akan ada hanyalah…”

Itulah penggalan dialog yang terdapat dalam sebuah novel garapan Dewi “Dee” Lestari yang berjudul “Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh”. Sebuah novel yang berkisah tentang percintaan antara Rueben dan Dhimas, dan kehidupan, yang dibalut dengan informasi-informasi ilmiah.

Di awal tahun 2000, Dee menggebrak dunia sastra Indonesia dengan karyanya yang tidak biasa. Supernova. Mulai dari tema cerita yang saat itu masih dianggap tabu, hingga pemilihan kata yang cenderung membuat para pembaca sering mengernyitkan dahi. Kalau kamu bertahan membaca buku ini, anehnya justru candulah yang tertinggal. Dengan tiba-tiba kamu seperti mulai menyukai dunia non-fiksi. Pikiranmu dihantui metafora, dan tentu saja istilah ilmiah yang jarang ada di novel Indonesia saat itu.

“Mereka yang oleh sebab kebiasaan lama terlalu membedakan fiksi dan non fiksi, mungkin akan kecewa dengan buku ini. Tapi tidak bagi yang selalu bergairah menyongsong segala hal yang tumbuh.” – Sujiwo Tejo

Supernova (untungnya) bukanlah novel satuan. Ini novel berseri. Untuk seri lanjutannya, Dee memasang judul yang lebih pendek, yaitu “Akar”, ”Petir”, “Partikel” dan buku terbaru yang akan dirilis tahun ini (2014) berjudul “Gelombang”.

Saran bagi para pembaca yang baru akan mencoba membaca serial novel Supernova, bacalah dengan perlahan, tidak usah terburu-buru. Nikmati perjalananmu mengenal berbagai tokoh dalam cerita, hanyut dalam konflik yang ada, dan sadarilah bahwa Dee mengemas dengan sangat keren.

Untuk menutup tulisan ini, ada sebuah cukilan menarik dari buku “Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh” untuk para pembaca.

“Takkan kuhadirkan kakiku ke sana,

Tak kan pula kuhadapkan mataku untuk melihatnya.

Aku akan dirasuki jutaan imaji mengenai dirimu dengannya.

Bagaimana kalian makan bersama, atau bercinta di atas meja.

Dan betapa seharusnya engkau tidak di sana.

Maaf, saya sedang tidak berselera untuk disiksa.”

***

Judul novel: Supernova Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh

Penulis: Dewi Lestari/Dee

Penerbit: Truudee Books

Tahun terbit: 2000

Halaman: 250

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s