Rahasia Dee untuk Menulis Fiksi yang Baik


Dee dalam acara LOOP di Cihampelas Walk (12/9/2014)

Dee dalam acara LOOP di Cihampelas Walk (12/9/2014)

Setiap orang berpikir bahwa dirinya bisa menulis fiksi. Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Pertanyaan yang datang kemudian adalah: Apakah kita melakukannya dengan baik?

Kita sering merasa memiliki sebuah ide cerita yang super keren namun ketika kita menuliskannya kita malah mendapatkan hasil yang lebih buruk daripada terjemahan Geography of Bliss. Yes, it’s sucks, but we even worst!

 “Penulis yang baik mampu mentransfer 100% isi pikirannya ke dalam tulisan” – Dee

Banyak orang yang merasa dirinya memiliki renjana (passion) dalam menulis. Namun, renjana saja tidak cukup untuk menghasilkan tulisan yang baik, dibutuhkan juga kemampuan (skill) menulis yang baik. Kemampuan ini yang membedakan penulis dengan orang yang bisa menulis. Dan, bagi sebagian besar orang kemampuan menulis bukan kemampuan yang datang secara alami namun perlu dilatih terus menerus.

Bagaimana cara melatih kemampuan menulis kita? Dewi “Dee” Lestari punya rahasianya sendiri.

 “Menulis adalah proses mengamati,berpikir, mencipta, berefleksi, dan kemudian menuliskannya” – Dee

Proses menulis tidak diawali oleh menulis itu sendiri. Hal ini yang sering memberikan kesulitan pada penulis-penulis pemula yang baru mencoba untuk menulis. Kata dan kalimat tidak akan datang dengan sendirinya ketika kita telah berada di depan laptop ataupun telah siap menggenggam pulpen. Seringkali, menulis sebenarnya adalah alat untuk merekam apa yang telah terbentuk di kepala kita. Jadi, bagian yang paling penting dari menulis adalah apa yang ada di dalam kepala kita.

 “Setiap benda memiliki cerita, yang diperlukan hanya sedikit imajinasi” – Dee

Dee sendiri melatih kemampuannya dalam menulis dengan selalu mengamati hal-hal disekitarnya. Setiap benda di sekitarnya dapat menjadi inspirasi untuk tulisan. Sepasang sepatu usang bisa menjadi sepasang sepatu luar angkasa usang dalam pikiran Dee. Semuanya hanya perlu dibantu dengan sedikit imajinasi.

 “Membaca dan menulis seperti bernapas. Membaca seperti menarik napas, dan menulis adalah menghembuskan. Kalo menarik napas terus menerus tanpa menghembuskan akan sesak napas. Kedua hal tersebut harus seimbang.” – Dee

Dee selalu menekankan bahwa membaca sangat penting untuk proses menulis. Bahkan, Dee menganjurkan untuk memiliki ritual membaca sendiri, misal: menghabiskan satu judul buku dalam seminggu atau sebulan. Lebih baik membaca sedikit buku tapi dilakukan secara rutin daripada akhirnya tidak membaca sama sekali.

Dan, mulailah fokus untuk membaca buku yang kamu suka saja. Hal ini akan membantu membiasakan diri dengan bentuk tulisan yang kamu suka.

 “Tulisan-tulisan yang terbaik di dunia adalah tulisan yang menggerakan. Dan, semua tulisan yang menggerakan adalah tulisan yang jujur.” – Dee

Jujurlah dalam menulis. Jangan pura-pura meniru tulisan yang sebenarnya tidak kamu sukai hanya karena mereka populer. Tulislah sesuatu yang kamu benar-benar suka. Tulislah sesuatu yang ingin kalian baca.

Setelah kita akhirnya memiliki sebuah ide, kadang kita sering melakukan self-censorship. Kadang kita menghilangkan tulisan kita yang terlalu vulgar, terlalu kasar, atau tidak sesuai dengan norma-norma yang telah berada dalam masyarakat karena takut jika nantinya akan dikira aneh, bodoh, misfit, atau penilaian-penilaian buruk lainnya dari lingkungan sosial di sekitar kita. Dee bilang: BERHENTI.

Berhentilah melakukan self-censorship jika yang kalian lakukan membuat tulisan kalian tidak lagi memuaskan keinginan kalian sendiri. Berhenti menjadikan pendapat orang lain sebagai patokan apakah tulisan kalian sudah baik atau tidak. Don’t give a fuck about that.

Jadilah diri kalian sendiri. Menulislah untuk diri kalian sendiri.

 “Beranilah untuk gagal” – Dee

Penulis sekaliber Dee juga pernah gagal. Pada saat masih SMP, Dee pernah ditolak oleh Majalah. Dee juga pernah gagal dalam sebuah kompetisi menulis. Tapi, Dee tidak pernah berhenti menulis.

Faktanya, bila kalian ingin menulis dengan baik, kalian harus terus menerus menulis. Banyak penulis pemula yang baru belajar menulis fiksi bingung darimana harus memulai. Dee sendiri menyarankan untuk memulai menulis tentang apa yang ada disekitar kita, misal: dompet, baju, anjing, adik, dll.

Kalian juga dapat memulai dengan menulis yang kalian tahu. Misalkan, bila kalian suka naik gunung tulislah tentang pengalaman kalian mendaki gunung. Atau, jika kalian hobi menyelam tulislah sesuatu tentang menyelam. Hal-hal yang familier akan memudahkan kalian untuk menulis.

Terakhir, kalian dapat menulis tentang sesuatu yang kalian sendiri ingin baca. Misalnya seperti Dee yang kesulitan ketika ingin membaca buku tentang spiritualitas namun tidak menemukan buku selain buku-buku motivasi yang tidak terlalu disukainya. Akhirnya, dia membuat seri Supernova.

Itulah beberapa rahasia Dee untuk menjadi penulis fiksi yang baik. Apa rahasia kalian untuk dapat menulis fiksi yang baik?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s