reviews

Kambing Jantan

Kambing Jantan

Esok paginya, ternyata jerawat gw makin banyak!!! Tidakkk… rupanya ada yang infeksi gitu soalnya si tukang salon salah ngasih obat… Nyokap gw langsung panik… mulai saat itu, dia bersiin muka gw pake lotion ama toner pembersih setiap malam… Ajaibnya, setiap kali dibersiin ama dia, paginya jerawat gw berkurang banyak sekali!!!

Selidik punya selidik, gw bertanya sama sang mama….

Gw             : Ma, kok jerawatnya ilang banyak banget sih? Lotionnya bagus yah?

Nyokap    : Wahhh…, rahasianya bukan di krim ato tonernya, Kung….

Gw             : Trus?

Nyokap    : Rahasianya tuh pada kain yang Mama pake buat bersiin muka kamu!

Pas gw ngeliatin tuh kain… ternyata bentuknya segita…, ternyata ada karetnya di bagian atas…, ternyata… itu adalah kolor bokap gw!!! TIIIDAAAAAKKK….! Jadi, selama ini nyokap gw menjamah dan mengusap muka gw pake kolornya bokap…. Huhuhuu… nasib… tapi manjur lho!

Pesan moral:  ternyata selain buat topi, kolor punya kegunaan lain yang menakjubkan!

***

Sebuah penggalan cerita dari buku berjudul Kambing Jantan. Buku ini merupakan kumpulan cerita sehari-hari dari seorang Raditya Dika yang ia tuangkan dalam blog kambingjantan.com. Kumpulan cerita yang absurd, nyeleneh bin ajaib.

Sebuah catatan harian pelajar bodoh. Itulah tagline dari buku Kambing Jantan. Isinya memang catatan kesialan-kesialan dari Raditya Dika yang entah mengapa justru menjadi hal yang kocak dan menghibur bagi para pembacanya. Raditya Dika sebagai penulis, berhasil membuat pembaca menjadi amat penasaran dengan tingkah asli dari keluarganya. Seperti pada penggalan cerita di atas, bagaimana sebenarnya bentuk dari seorang “Nyokap” Raditya Dika.

Selain menceritakan seputar keseharian dari keluarganya, Radit juga menulis bagaimana pengalamannya hidup sebagai mahasiswa di luar negeri. Bagaimana perjuangannya hidup sendiri di luar negeri yang malah memunculkan hal-hal tak terduga dan tetap kocak.

Cerita cinta juga disodorkan dalam buku ini. Lagi-lagi, kesialan dari kegagalan kisah cinta Raditlah yang menjadikan cerita cinta dalam buku ini menjadi menarik.

Sukses dengan format buku, Kambing Jantan pun diangkat ke layar lebar. Film Kambing Jantan cukup sukses melambungkan kembali sang penulis, Raditya Dika. Dari film, Kambing Jantan bertransformasi menjadi bentuk komik. Dan lagi-lagi, Kambing Jantan sukses di pasaran.

Raditya Dika berhasil merubah dunia tulis-menulis di Indonesia. Raditya Dika membangkitkan kembali cerita fiksi komedi di Indonesia. Bahkan pengaruhnya masih terasa sampai saat ini. Sekitar 9 tahun dari terbitan pertama buku Kambing Jantan, sampai saat ini masih banyak penulis muda yang terhipnotis dengan gaya cerita dari Raditya Dika. Maka jangan heran , kalau kamu menemukan catatan harian gila dari berbagai profesi, mulai dari guru, dokter, sampai TKI.

***

Judul   Buku              :Kambing Jantan

Penulis                      : Raditya Dika

Penerbit                     : Gagas Media

Tahun Terbit            : 2005

Tebal                          :  xx + 235

Madre

madre

“Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak menjadi seperempat Tionghoa, nenek saya ternyata tukang roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu” -Tansen (Madre, 2011).

Itulah salah satu kutipan kalimat yang diambil dari “Madre”, buku ketujuh Dewi Lestari yang kini marak di berbagai toko buku.  Buku setebal 160 halaman ini berisi karya-karya cerita pendek Dee, panggilan akrab sang penulis, dalam lima tahun terakhir (2006-2011).  Dan, hampir separuh dari buku ini mengisahkan tentang “Madre” dan filosofi roti yang ada di benak para artisan tempo dulu.

“Madre” berkisah tentang kehidupan Tansen, sang tokoh utama cerita, yang mendapat wasiat dari seorang kakek yang tidak pernah dikenalnya.  Nama “Madre” sendiri merupakan asal muasal dari banyak roti terkenal di toko roti Tan De Bakker, yaitu toko roti tua dan sudah bangkrut yang diwariskan secara tiba-tiba kepada Tansen.

Pada mulanya, Tansen bersikap tak acuh bahkan hampir menjual warisan yang menjadi haknya.  Ia ingin segera meninggalkan kota Jakarta yang penuh sesak dan kembali ke Bali, pergi dari semua keterikatan yang tak pernah ia duga selama ini. Namun ternyata, “Madre” mampu membuatnya bertahan bahkan berjuang menghidupkan kembali toko roti tua yang kini menjadi haknya.

“Saya meninggalkan Bali. Menetap di kota yang paling saya hindari. Bekerja rutin di satu tempat yang sama setiap hari. Ternyata sampai hari ini saya masih waras. Saya rindu pantai. Tapi pantai tidak perlu jadi rumah saya. Rumah adalah tempat dimana saya dibutuhkan. Dan Madre lebih butuh saya dibanding pantai manapun di dunia. Berfamili dengan adonan roti ternyata membuat saya menemukan keluarga baru.”-Tansen (Madre,2011)

Di tengah-tengah perjuangan Tansen membangun kembali toko roti tua itu, dia menemukan cinta dalam diri Meilai. Seseorang yang tertarik untuk mempelajari resep “Madre” setelah membaca blog tulisan Tansen. Ketertarikan keduanya bukan hanya karena perasaan yang pelan-pelan tumbuh di antara mereka, tapi karena ‘perasaan’ yang mereka miliki untuk “Madre”

Di akhir cerita, Tansen dibantu oleh Meilai berhasil menghidupkan kembali Toko Roti Tan De Bakker dan merubah nama toko roti tersebut menjadi Tansen De Bakker.

Dee dalam buku ini tidak hanya menunjukkan kepiawaiannya meramu cerita, namun ia juga mampu memperkaya pengetahuan pembaca dengan “Madre” dan filosofi roti yang mengelilinginya. Buku yang menghadirkan kisah dan pengetahuan seputar toko roti masih sangat jarang, sehingga rasa haus pembaca akan dunia roti pun dapat benar-benar dipuaskan.

Tapi sayangnya, novel ini kurang menceritakan setiap detail dari cerita, misalnya mengapa Kakek Tansen akhirnya tahu dan yakin untuk mewariskan toko roti yang sudah bangkrut tersebut kepada Tansen, padahal mereka tidak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya.  Jika saja novel ini ditulis dengan lebih mendalam dan lebih panjang, “Madre” sebenarnya mampu menjadi “biang novel” yang berkualitas.

Tapi tetap saja bukan Dee namanya jika ia tak mampu memukau dengan kisah-kisah penuh filosofi yang dituliskannya.  Kisah-kisah platonik yang ditulis oleh Dee sejatinya bukan sekedar cerita, namun lebih kepada hasil perenungan spiritualitasnya tentang cinta dan kehidupan.

Nah, pada tanggal 28 Mei 2013 yang lalu, kumpulan cerita-cerita di novel “Madre” ini juga sudah di filmkan loh. Ada sedikit perbedaan antara detail cerita di buku dan di film, seperti Toko Roti Tan De Bakker letaknya ada di Jakarta menurut novel, namun di film, letak roti tersebut ada di Jalan Braga No.52, Bandung. Walau demikian film hasil arahan sutradara Benni Setiawan dan dibintangi oleh Vino G. Bastian sebagai Tansen serta Laura Basuki sebagai Meilai, seri Madre The Movie ini sukses memukau jutaan penonton di Indonesia.

“Hidup jangan coba-coba, kamu harus sungguh-sungguh. Kalau nggak, hidupmu akan terus dicoba…” -Mei (Madre The Movie,2013)

BDDM23wCEAMuJ9z (1)

Nah, kebetulan koleksi buku “Madre” ini tersedia di dalam katalog kami loh. Jika ingin meminjam silahkan kontak kami 🙂

Selamat membaca!

***

Judul Buku      : Madre

Penulis             : Dewi Lestari / Dee

Penerbit           : Bentang Pustaka

Tahun Terbit    : 2011

Halaman          : 160

A Thousand Splendid Suns

A_Thousand_Splendid_Suns

Sedikit berbagi cerita tentang salah satu buku best seller karangan Khaled Hosseini, judulnya A Thousand Splendid Suns. Seperti biasa, Khaled Hosseini selalu dapat membuat pembaca “tersentuh” akibat penggambaran detail dari masing-masing tokoh dalam bukunya.

Secara garis besar, novel ini menceritakan dua tokoh wanita dari generasi berbeda di tahun 1970-an dan di awal tahun 2000. Tokoh wanita yang pertama bernama Mariam. Sejak di lahirkan, Mariam sudah merasakan banyak penderitaan. Ia merupakan anak di luar nikah dari saudagar kaya raya yang sudah memiliki tiga orang istri dengan pembantunya. Untuk menjaga nama baiknya, sang Ayah yang bernama Jalil, kemudian mengasingkan Mariam dan ibunya ke dalam sebuah rumah kayu di atas bukit. Walau demikian, dapat dikatakan Jalil merupakan sosok ayah yang cukup bertanggung jawab. Ia menafkahi Mariam dan selalu mengunjunginya satu kali se pekan. Inilah yang membuat Mariam sayang kepada Jalil.

Penderitaan Mariam belum berakhir, saat berusia 15 tahun ibunya meninggal dunia, Hal ini menyebabkan Mariam harus tinggal di rumah Jalil untuk melanjutkan hidup. Namun ternyata, istri-istri Jalil tidak suka dengan kedatangan Mariam, sehingga mencari cara untuk melenyapkan Mariam dari rumah. Oleh istri-istri Jalil, Mariam dipaksa menikah dengan seorang pengusaha bernama Rasheed yang usianya lebih tua 30 tahun dari Mariam. Mariam tentunya tidak setuju dengan perjodohan ini, sehingga meminta perlindungan Jalil sang ayah untuk membatalkannya. Namun ternyata, apa boleh dikata, Jalil ternyata justru berada di pihak istri-istrinya, ia menyetujui perjodohan Mariam dan Rasheed. Mulai saat itulah Mariam benci dan tidak menganggap Jalil sebagai ayahnya lagi.

Mariam tinggal di rumah Rasheed setelah menikah. Rasheed merupakan sosok pria yang menakutkan, kasar namun sesekali baik terhadap Mariam. Hingga pada suatu saat Mariam hamil dan Rasheed menjadi begitu gembira. Sayangnya, dalam usia kandungan yang masih muda, Mariam mengalami keguguran dan begitupun dengan kehamilan-kehamilan berikutnya. Akhirnya Rasheed menjadi marah dan selalu menyiksa Mariam, karena menganggap Mariam wanita yang tidak dapat memberi keturunan dan tidak berguna.

Sampai pada suatu hari, Rasheed memutuskan menikah lagi dengan seorang wanita muda, anak tetangganya yang keluarganya meninggal semua akibat serbuan roket yang menyerang saat peperangan di Kabul. Saat itu umur Rasheed 65 tahun, dan Laila, wanita muda itu, berumur 17 tahun. Laila sebenarnya telah memiliki seorang calon suami bernama Tariq dan sedang mengandung anaknya. Tariq pergi ke medan jihad, dan karena Rasheed ingin sekali menikahi Laila, Rasheed mengarang cerita bahwa Tariq yang berperang di medah jihad itu telat meninggal. Laila yang membutuhkan perlindungan, akhirnya menyerah dengan tawaran pernikahan dari Rasheed. Namun saat itu, Rasheed belum mengetahui bahwa Laila sedang mengandung.

Setelah beberapa bulan menikah dan mengetahui Laila sedang mengandung, Rasheed menjadi sangat baik dan perhatian dengan Laila. Ini semua membuat Mariam kesal, karena Mariam benar-benar hanya dianggap Rasheed sebagai pembantu di rumah tersebut. Hubungan Mariam dan Laila pun tidak baik.

Sampai suatu ketika Laila melahirkan anak perempuan dan dia merasa tidak bahagia hidup bersama Rasheed. Ia mengajak Mariam untuk kabur dari rumah tersebut. Hubungan Mariam dan Laila pun semakin membaik, hingga pada suatu hari mereka memberanikan diri kabur dari rumah Rasheed di tengah kekacauan perang yang sedang terjadi. Tapi dewi fortuna sepertinya sedang tidak bersama mereka. Rasheed mengetahui rencana tersebut dan menghukum mereka habis-habisan di rumah. Hal yang tidak disangka pun terjadi, bahwa ternyata Tariq, calon suami Laila, masih hidup dan tanpa sepengetahuan Rasheed, Tariq sering berkunjung di rumah.

Suatu hari pertemuan Tariq dan Laila disadari oleh Rasheed. Hal ini membuat Rasheed sangat murka dan menghajar Laila sampai tak berdaya. Mariam geram dan tidak terima Laila diperlakukan kasar oleh Rasheed. Mariam melakukan serangan saat Rasheed sedang menyiksa Laila. Serangan Mariam ini ternyata berakibat fatal, yaitu kematian Rasheed.

Laila mengajak Mariam melarikan diri setelah mengubur jasad Rasheed. Namun Mariam yang berhati putih ini menolaknya. Mariam sadar ia telah berbuat dosa. Karena bagaimana pun, membunuh adalah perbuatan keji, ditambah lagi Rasheed masih berstatus sebagai suaminya. Untuk menebus dosa yang telah ia perbuat, Mariam menyerahkan diri kepada Polisi dan siap untuk menghadapi hukuman mati yang diberikan kepadanya. Sebelum itu, Mariam berpesan kepada Laila untuk melanjutkan hidupnya bersama putri kecilnya dan Tariq. Tangis keduanya pun pecah, karena setelah itu, Laila tidak pernah bertemu Mariam lagi.

Begitu kira-kira gambaran singkat dari novel karangan Khaled Hosseini ini. Kalau teman-teman ingin membaca versi lengkapnya, silakan beli buku nya di toko buku terdekat. Selamat membaca 🙂

Diari Hara: Sebuah Kisah Remaja Mengejar Eksistensi dari Perspektif yang Manusiawi

COWOK SUKA NULIS DIARI?!

Sst! Jangan keras-keras, nanti yang lain tahu! Hara memang diam-diam suka nulis diari, dan ini ceritanya.

Punya orangtua tajir dan sekolah di SMA elite nggak menjamin kamu bakal dianggap keren. Nggak percaya? Tanya Hara! Kalau mobil kamu cuma sedan bekas, kamu nggak atletis, atau kemampuan akademik kamu biasa banget, jelas kamu dianggap cupu!

Tetapi Hara langsung mati-matian les matematika demi merebut hati Sissy, anak baru di kelasnya. Apalagi Sissy cantik dan pintar, dan cuma tertarik sama cowok yang otaknya encer juga. Meski bersaing dengan Ramon si ketua klub matematika yang juga jagoan basket, Hara bertekad menghapus label cupu dan jadi cowok idaman Sissy! (more…)

Nenek Hebat Dari Saga: Belajar Hidup Sederhana

ilustrasi (google.com)

ilustrasi (google.com)

Pernahkah kalian bayangkan orang yang bahagia dengan kemiskinannya? Atau orang yang hidup begitu sederhana tetapi begitu tulus dalam memberi kepada orang lain? Inilah kisah seorang bocah korban perang yang diasuh oleh neneknya yang tinggal di sebuah desa di Jepang yang bernama Saga.

Kisah yang dituturkan dalam buku karangan Yoshichi Shimada ini benar-benar menyentuh hati pembacanya sampai lapisan yang paling dalam. Buku ini menceritakan tentang Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom dan terpaksa berpisah dari Ibunya untuk tinggal bersama neneknya di Saga.

Konflik yang dibangun dari hubungan Akihiro dan Ibunya juga sangat menarik. Keingintahuan Akihiro kecil terhadap asal-usulnya setelah mengetahui dirinya dilahirkan jauh setelah Ayahnya masuk rumah sakit, kecintaannya yang sangat besar kepada Ibunya, hidup mereka yang cukup memprihatinkan, dan keteguhan hati ibunya ketika akhirnya harus melepas Akihiro untuk tinggal bersama neneknya di Saga. Semua konflik-konflik itu dirangkai begitu apik pada awal buku sehingga membuat saya sendiri berekspektasi lebih pada keseluruhan ceritanya. (more…)