YANG UNIK DARI DEWI “DEE” LESTARI


C5cwdonK

Dewi “Dee” Lestari atau yang akrab dipanggil Dee, merupakan seorang penulis yang kebanyakan tema dalam karyanya berhubungan dengan sains atau tema ‘berat’ lainnya. Karya-karya Dee bisa dibilang tidak mudah dimengerti dan harus dibaca lebih dari satu kali. Tapi, kenapa novel Supernova karyanya bisa terjual sampai 200 ribu copy yaaa?

Dee menyatakan bahwa dirinya juga tidak mengerti. Bahkan pembaca setia karyanya bilang “Mba Dewi saya nggak ngerti bukunya, tapi saya suka”. How do you interpret that? Berikut ini adalah hasil wawancara Wimar Witoelar dengan Dee mengenai kesuksesannya 🙂

Mungkin membaca buku Dee seperti mendengar musik Jazz, saya suka padahal tidak mengerti. Apakah betul begitu?

Mungkin dan banyak juga yang bilang bahwa buku saya harus dibaca dua atau tiga kali baru bisa mengerti. Jadi menurut saya mungkin karena rasa penasaran karena buku ini menyebar dari mulut ke mulut. Kedua, sebetulnya topik yang diangkat di Supernova bisa related ke banyak orang karena ada spiritualitas. Menurut saya spiritualitas adalah muara terakhir seorang manusia. Orang akhirnya akan berkumpul disana sekalipun saat ini kita mungkin lebih tertarik pada minat-minat duniawi.

Kalau saya lihat Dee jalan di luar, di jalan Fatmawati atau ditempat lain, Dee itu sangat duniawi. Are you as profound in real life as you are in your book ?

I think I’am. Namun, sesuatu itu baru bisa terasa bila digali, ketika sudah diajak ngobrol baru ketahuan. Tapi saya memang bukan orang yang tertarik pada simbol-simbol supervisial. Tidak berarti orang yang berminat pada spiritualitas harus memakai Jubah, tapi tidak harus juga orang punya penampilan yang prototipe atau yang tipikal. Kita bisa tampil seperti apa saja. Saya suka sekali kalimat Al Pacino di film Devil’s Advocate. Di situ Al Pacino bilang bahwa “we have to come as a surprise” kita harus datang dengan sebuah kejutan. Justru kalau kita tampil terlalu tipikal akhirnya orang bisa dengan cepat mengkotak-kotakan kita. Kalau seperti inikan tidak ketahuan.

Kalau lihat Dee lewat seperti any young women you see everyday, professional, motivated, cerah dan tidak perlu memikirkan yang dalam-dalam. Tapi novelnya sangat dalam. Bahkan karyanya yang terakhir Filosopi Kopi ternyata lumayan berat. Not that I don’t like berat. Sama seperti saya suka musik klasik tapi tidak setiap saat. Anda sendiri kalau baca memang harus yang berat-berat ?

Terus terang Mas Wimar, saya ini penulis dan juga seorang pembaca yang memang mencari misi dan pengetahuan. Bacaan saya hampir semuanya non-fiksi, jadi saya membaca itu bukan karena ingin dihibur. Kebanyakan orang membaca fiksi karena ingin mencari hiburan tapi kalau saya ingin mencari pengetahuan. Misalnya saya sedang ingin tahu tentang global warming, saya bisa berbulan-bulan membaca buku tentang global warming setelah itu saya pindah ke topik lain. Jadi saya itu pembaca non-fiksi.

Berarti Dee itu orang yang sangat serius. Ada 2 jalur buat orang serius sebetulnya, jadi spiritual person dalam bentuk yang formal entah itu agama atau philosophy atau masuk jalur akademik jadi S-3/S-4. Bagaimana respon Dee terhadap komentar itu ?

Wah, pertama saya ada masalah dengan namanya institusi dan saya benci sekali dengan rutinitas dari zaman saya sekolah. Saya mungkin satu-satunya anak sekolah yang memegang rekor telat 3 tahun. Jadi saya susah bangun pagi dan saya tidak terlalu tertarik pada jalur akademis yang institusional. Saya lebih senang baca buku, saya bisa start and stop any time I want dan menurut saya biaya sekolah itu mahal, lebih baik di konversikan jadi buku-buku dan menurut saya jadinya jauh lebih murah.

Apa memang ada penderitaan dalam hidup sampai jadi serius seperti ini ?

Tidak Mas Wimar, justru I celebrate life. Saya orang yang punya rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap hidup karena saya pengagum hidup. Untuk itu saya ingin tahu banyak dan ingin menggali sedalam-dalamnya.

Berarti kalau saya perhatikan Dee punya daya konsentrasi yang tinggi. Menulis Supernova berapa lama konsentrasinya ?

Yang pertama 9 bulan termasuk riset. Yang kedua lebih lama satu setengah tahun dan yang ketiga 6 bulan lebih singkat karena risetnya sedikit. Memang berat Mas Wimar, kalau saya ibaratkan seorang penulis novel itu seperti pelari marathon, kalau penulis cerpen itu seperti sprinter. Tidak berarti kemudian yang marathon lebih jago, tapi memang itu seperti satu stamina bawaan menurut saya. Saya susah sekali menulis cerpen, saya suka iri melihat orang-orang bisa buat cerpen karena saya tipe orang yang senang panjang, saya susah sekali kalau menulis cerita pendek.

Waktu masih kecil sudah aktif menulis untuk sekolah atau majalah sekolah ?

Iya sudah dan memang tidak pernah terlalu terekspose karena waktu kecil saya lebih mengarah ke musik. Kalau musik saya terbawa oleh lingkungan dimana keluarga saya pencinta musik. Jadi yang namanya nyanyi vocal group atau panduan suara secara natural berjalan begitu saja dalam hidup saya. Sementara kalau menulis saya butuh usaha karena tidak ada orang yang acknowledge hal itu dalam diri saya. Waktu kecil saya hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pernah saya kirim ke majalah karena saya selalu tidak patuh pada aturan.

Musik ada acknowledge sedangkan menulis itu untuk kepuasan sendiri. Dengan sukses sebagai penulis dan sukses sebagai penyanyi, Anda merasa sebagai penulis atau seorang penyanyi ?

Kalau dari perspektif saya, tentu kedua-duanya. Itu memang sudah merupakan satu paket yang inherent dalam diri seorang Dewi Lestari. Tapi ketika dibalikan ke masyarakat terus terang memang karena produktifitas saya pun secara realistis lebih banyak dibuku, akhirnya orang sekarang lebih melihat saya sebagai seorang penulis.

Pernah kita berbincang-bincang waktu terakhir ketemu bahwa produktifitas Anda di bidang menyanyi tidak terlalu tinggi hanya sekitar 5 lagu dalam setahun. How can you explain that? Apakah lebih membutuhkan inspirasi dalam menulis lagu atau mungkin standardnya tinggi sehingga lagunya Dee seserius buku-bukunya ?

Kalau musik tidak dilihat dari kadar serius atau tidak. Tapi kalau saya menulis lagu memang lebih seperti petapa yang menunggu wangsit. Jadi saya harus menunggu disambar petir inspirasi dan menurut saya lebih susah menulis lagu karena di satu sisi ada aspek melodi lalu aspek lirik. Dan dalam lagu you have to say everything right in just five minutes tapi kalau didalam buku kita bisa balik kembali dan kalau tidak puas bisa kita ganti lalu kemudian kita juga punya lapangan bermain sampai beratus-ratus halaman. Jadi kebebasannya jauh lebih liar di buku sementara di lagu ada hal-hal tertentu yang harus saya ikuti.

Apakah Anda dalam satu proyek buku itu akan eksklusif atau bisa menulis sekaligus ?

Eksklusif dan itu susahnya, jadi saya susah juga bekerja dengan proyek pararel karena saya lebih suka misalnya fokus ke Supernova Partikel karena untuk Partikel ini bukan hanya menulisnya saja tapi referensi yang saya baca saat itu harus punya rujukan ke sana. Karena kalau sudah dijalani itu so much to do and so little time, akhirnya saya kalau punya waktu lebih akan saya gunakan untuk memilih buku-buku yang ada hubungannya dengan apa yang saya kerjakan supaya saya mendapatkan bahan lebih banyak lagi.

Nah, itu tadi adalah sepenggal bincang-bincang seru dengan Dewi Dee Lestari. Seorang penulis unik dan tidak biasa, namun mampu menyandang predikat best seller di hampir setiap buku karyanya.

Menarik yaaa! Semoga kita dapat belajar banyak dari Dee, seorang pengagum kehidupan yang penuh akan kejutan 🙂

Sumber : http://www.perspektifbaru.com/wawancara/530

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s