Pol·i·tics


9 Juli 2014 telah berlalu. Pesta politik terbesar di Indonesia ini -yang menandai suksesi pemerintahan sebelumnya- meninggalkan jejak-jejak ke-Adaannya lewat quick count yang diselenggarakan beberapa lembaga survey politik di negeri ini, hujatan dan makian yang beredar bebas di media sosial, simpang-siur warta yang beredar di media komunikasi, dan harapan-harapan akan perubahan yang tak kunjung datang. Politik memang tidak pernah menjadi sebuah jalan mulus, ia selalu meninggalkan jejak. Dan terkadang, lumpur-lumpur pada jejak sepatu kotor para pelakunya lebih terang dibanding arah tujunya. Politik, buat kebanyakan orang, menjadi hal yang masygul, tetapi menarik untuk ditonton. Para pelaku politik laksana gladiator dimana pemilihan umum sebagai arena politiknya adalah sebuah Koloseum yang memuat lebih dari 200 juta penonton. Kali ini tim Inkubuku menawarkan beberapa pilihan buku yang menarik, agar kegiatan menonton anda menjadi lebih sedap:

 

1. The Communist Manifesto (Karl Marx dan Friedrich Engel)

The Communist Manifesto mencerminkan sebuah usaha untuk menjelaskan tujuan utama komunisme, termasuk juga didalamnya teori yang mendasari gerakan tersebut. Buku ini menitikberatkan pada perjuangan kelas, eksploitasi yang terjadi pada satu kelas proletar, dan motivasi yang ada di balik keseluruhan perkembangan sejarah yang terjadi. Hubungan antar kelas, oleh Marx dan Engel, didefinisikan oleh kepemilikan alat produksi. Namun, pada akhirnya ketimpangan kepemilikan alat produksi pula yang menyebabkan penindasan dan penghisapan kelas proletar. Pada titik ini, revolusi memunculkan sebuah kelas yang dulunya tertindas pada pucuk kekuasaan.

 

2. Il Principe/The Prince (Niccolo Machiavelli)

Machiavelli menyusun buku ini sebagai sebuah panduan praktis untuk berkuasa. Pembuatan buku ini didedikasikan kepada Lorenzo de’ Medici, penguasa kota Florence pada waktu itu. Il Principe atau dalam versi bahasa inggrisnya The Prince bukanlah sebuah karya teoritik ataupun abstrak: dia praktis. Laku-laku politik yang kita saksikan atau pernah alami selama ini adalah Machiavellistik: aksi tipu-tipu, memimpin dengan rasa takut, tebar-tebar janji, pergerakan massa, dsb. Namun karena itulah buku ini menjadi menarik untuk dibaca dan dipelajari karena merupakan cerminan Politik yang sesungguhnya, bukan Politik Ideal.

 

3. Negarakertagama (Mpu Prapanca)

Negara Krtagama adalah suatu puja sastra dan sumber sejarah kebudayaan. Selesai digubah pada bulan Aswina 1287 Saka atau September Oktober 1365. Negara Krtagama adalah salah satu bukti sejarah pembangunan Majapahit, khususnya dalam bidang kesusastraan. Naskah tersebut adalah gudang pengetahuan tentang sejarah Singhasari dan Majapahit. Negara Krtagama, antara lain, berisi rekaman sejarah kejayaan Kerajaan Majapahit, perjalanan Hayam Wuruk, hubungan keluarga raja, para pembesar negara, jalannya pemerintahan, desa-desa perdikan, keadaan ibu kota, keadaan desa-desa, serta kondisi sosial, politik, keagamaan, pemerintahan, kebudayaan, dan adat istiadat sepanjang jalan keliling Sang Prabu pada tahun 1359 Masehi

 

4. Statism and Anarchy (Michael Bakunin)

Sebuah karya termahsyur dari aktivis, pemikir, dan penulis Anarkis, Michael Bakunin. Buku ini adalah sebuah representasi dari pemikiran Bakunin yang menistakan Negara dan segala birokrasinya. Dasar dari pemikiran Bakunin adalah semua manusia adalah sama dan sederajat, sehingga adanya Negara menjadi sebuah bentuk penyelewengan kodrat, karena Negara memungkinkan adanya sebuah permakluman tindak opresif sekelompok manusia untuk menciptakan stabilitas. Statism and Anarchy karya Bakunin ini membuat terang segala hal tentang Anarkisme dan dasar-dasar pemikiran yang melandasinya.

 

5. Catatan Pinggir (Goenawan Mohamad)

Catatan Pinggir adalah sebuah kumpulan esai dari Mohammad Goenawan yang terbit setiap minggu di majalah Tempo. Topik-topik yang dipilih merupakan sebuah cerminan tentang apa yang hangat terjadi Indonesia. Goenawan memilih untuk menggunakan pelbagai sudut pandang dalam menyikapi permasalahan-permasalahan sosial, politik, dan budaya yang terjadi di Indonesia. Kadang Goenawan menjadi korban, kadang pelaku, kadang penegak hukum, kadang hanya seorang pengamat. Cara pandangnya yang selalu berada pada “tepi” itulah yang membuat esai seorang Goenawan Mohamad menjadi layak untuk dibaca oleh mereka yang ingin melihat negerinya dari sisi yang berbeda.

 

6. Al-Madina al-fadila (Abu Nasr)

Al-Madina al-Fadila adalah sebuah masterpiece dari pemikiran seorang pemikir Islam yang paling berpengaruh Al-Faribi Abu Nasr. Konsep kebahagiaan (sa’ada) adalah dasar dari pemikiran filosofis Al-Faribi. Hal ini dituangkannya pada Masyarakat Sempurna (al-iitima’ al-fadil) dan Kota Sempurna (al-madina al-fadila), dimana seluruh anggota masyarakatnya bersama-sama mengusahakan sebuah kebahagiaan lewat laku baik. Buku ini memberikan pencerahan tentang bagaimana seorang pemimpin yang baik dapat memimpin rakyatnya menuju kebahagiaan dengan kekuatan absolut berada di tangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s