Atheis


Beberapa menit sebelum ia roboh tertembak, Hasan masih membandingkan dirinya dengan “Hamlet si Tukang Sangsi”.

        Kita ingat Hasan. Ia tokoh utama Atheis­ – sebuah novel yang tak bisa dilupakan sejak terbit pada 1949. Penulisnya, Achdiat K. Mihardja, meninggal pekan lalu (8 Juli 2010) di Canberra, Australia. Pengarang kelahiran Garut ini mencapai usia 99. Tapi, seperti nasib para sastrawan yang punya karya berarti, usia sepanjang itu masih akan kalah lanjut ketimbang apa yang ditulisnya.

        Terutama karena Atheis, lebih dari 60 tahun sejak pertama kali beredar, pantas jadi sebuah klasik. Prosa Achdiat masih terasa segar, cara berceritanya sama sekali tak aus, frase-frasenya masih bisa mengejutkan. Di samping itu, Hasan “si Tukang Sangsi” tetap tokoh yang tak ada duanya dalam sastra Indonesia. Lebih lagi: ia bisa melintasi zamannya sendiri.

        Mungkin karena apa yang ada dalam zaman itu, masa tahun 1930-an, belum juga mati pada hari ini: perubahan besar dalam sejarah modern yang terkadang tak tertanggungkan guncangannya, baik bagi seorang yang sederhana maupun pada hal-hal yang luhur dan sakral.

        Hasan seorang sederhana. Di akhir cerita, ia ditembak pasukan jepang, tapi ia bukan pelawan. Pada jam malam di Bandung itu, ia lari dari hotel tempatnya menginap karena ia kalap, galau, marah, dan cemburu, ketika mengetahui istrinya pernah menginap di hotel itu bersama temannya, Anwar.

        Ia lari. Lari terus. Disekitarnya jalan sepi. Orang sudah diperintahkan menyingkir dan lampu-lampu dipadamkan. Ia tak peduli. Teriak hatinya bersilang selisish dengan teriak peringatan petugas keamanan.

        Akhirnya tembakan dilepaskan. Paha kirinya tembus. Ia terguling. Ia ditangkap, karena ia disangka mata-mata. Tubuhnya yang TBC itu disiksa Kenpetai. Di suatu hari pada 1945 itu ia mati di tangan pasukan pendudukan yang sudah kalah perang. Bukan sebagai pelawan.

        Hasan terlampau rapuh untuk jadi pelawan. Ia seorang yang tergerus oleh, tapi juga terasing dari, proses yang membentuk dirinya. Apa mau dikata: proses itu selalu diduduki pihak lain.

        Pada waktu ia muda, orang tua, Tuhan , dan horor menghuni seluruh dirinya. Putra mènak bergelar raden dari sebuah kampung di Garut itu pada usia remaja memutuskan untuk mengikuti jejak ayahnya: “menganut ilmu mistik”. Mungkin ia terpengaruh ayahnya yang alim. Tapi terutama karena ia takut.

        “Sebagai anak kecil aku sudah dihinggapi perasaan takut kepada neraka,” tuturnya. Dari para pembantu rumah tangga keluarga itu ia dapatkan cerita-cerita siksa Tuhan yang tak alang kepalang. Maka, katanya pula, “Aku sangat taat menjalankan perintah Ayah dan Ibu tentang Agama.”

        Ia pernah berpuasa tujuh hari tujuh malam, mandi di kali Cikapundung 40 kali dalam semalam, mengunci diri di kamar selama tiga hari tanpa makan, tidur, dan bicara. Tapi semua bukan tumbuh dari kerinduan kepada Yang Maha Mempesona, tapi dari kengerian kepada Yang Maha Ngeri.

        Kengerian itu merundungnya sampai saat-saat akhir. Ia tenggelam dalam tata simbolik yang yang diwakili “Ayah” (dan “Tuhan”) yang membentuk fiilnya dengan deretan kata “tidak boleh”. Iman dan Islam-nya adalah rasa waswas. Agama jadi garis demarkasi. Ia memproteksi diri, dan sebagai akibatnya ia terjepit dalam liang perlindungannya sendiri. Apa yang ditinggal dari dirinya bukan lagi sebuah subyek yang bebas, melainkan obyek yang tersisih, terasing, dari hidup.

        Itu sebabnya ia tak mudah tegak. Ia rentan ketika berhubungan dengan dunia di luar garis itu.

        Bekerja di jawatan air minum di kota praja Bandung, pada suatu hari ia bertemu dengan Rusli, sahabatnya di masa kecil. Dari Rusli ia berkenalan dengan Kartini, perempuan 20 tahun yang mengubah hidupnya. Atau lebih tepat, karena ia jatuh cinta pada gadis itu, ia masuk ke sebuah kancah yang mengguncangkan hidupnya.

        Rusli. Kemudian Anwar, seorang seniman anarkis. Kemudian Parta, seorang aktivis politik sayap kiri. Merekalah orang yang merasa mewakili sebuah masa depan: modernitas yang yakin, seperti diucapkan Parta, bahwa “tekniklah Tuhan kita”. Bagi mereka, tentu saja mengutip Marx, agama adalah “madat” yang dibutuhkan orang banyak karena kondisi yang nestapa.

        Hasan tak mampu menghadapi atau menangkis argumen seperti itu – karena ia memang tak pernah bergulat dengan pertanyaan dan keraguan tentang iman dan agamanya. Karena ia merasa tak kuasa. Karena ia sudah jadi obyek, bukan subyek, agama.

        Tak terbiasa jadi diri yang merdeka dalam hati dan pikiran, ia akhirnya mengikuti saja pandangan Rusli yang menyatakan diri “atheis”. Tapi pergeseran pandangannya lebih didorong oleh rasa tertariknya kepada Kartini ketimbang keyakinan yang timbul – keyakinan sebagai hasil renungan yang digeluti dan menggelutinya.

        Maka, sampai akhir ceritanya, ia terombang-ambing antara memilih untuk mengingkari Tuhan dan kembali ke ajaran tarekatnya. Ia sendiri tahu ia bahkan lebih pengecut ketimbang Hamlet dalam lakon Shakespeare. Ia tetap kecut disebut “atheis” bukan karena ia tak bisa hidup tanpa Tuhan, tapi karena, sekali lagi, ia takut siksa neraka.

        Hasan sebagai tokoh novel unik, tapi ia agaknya bukan satu perkecualian. Saya kira Marx keliru jika ia hanya menganggap agama sebagai “suara keluh (der Seufzer) dari orang-orang yang tertindas”. Yang tak dialami banyak orang seperti Hasan adalah agama yang mengekspresikan suara yang terpesona, gentar, dan bersyukur – atau agama sebagai pengakuan bahwa kita ada, dalam kemerdekaan yang bersahaja, bersama dengan yang tak kekal namun tak berhingga.

        Sumbangan novel Atheis kepada zaman ini adalah mengisahkan tragisnya sebuah iman yang sebenarnya sebuah ketakutan.

 (Sebuah esai dari Goenawan Mohamad. Dimuat di Majalah Tempo terbitan 18 Juli 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s