SERUAK: Sebuah Novel Psychothriller


ilustrasi (sumber: www.roi-radio.com)

ilustrasi (sumber: http://www.roi-radio.com)

Seminggu, waktu yang saya butuhkan untuk menghabiskan membaca novel setebal 440 halaman ini. Enam hari waktu yang saya butuhkan untuk mencapai pertengahan cerita dan hanya tujuh jam untuk menghabiskan sisanya. Sampai sekarang, bulu roma saya masih bergidik jika mengingat klimaks dari novel psychothriller karangan Vinca Callista ini. Excellent!

Novel ini menceritakan tentang sekumpulan mahasiswa dari Universitas Palagan yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKNM) di sebuah desa bernama Angsawengi. Sebelas pribadi unik ini disatukan dalam sebuah kelompok untuk melakukan program pemberdayaan masyarakat di Desa tersebut. Berada dalam kelompok bukanlah hal yang menyenangkan untuk pribadi Bonie yang penyendiri dan kaku. Apalagi harus dihadapkan pada pribadi yang sangat mendominasi dari Jiana Aryon dan Nina. Fabyan Sadamelik, pribadi yang begitu ceria selalu menjadi mood maker dalam kelompoknya. Saking menariknya pribadi Fabyan ini, membuat Lula, gadis kaya manja dan India, anak paranormal ternama, tergila-gila padanya. Lain lagi dengan Mada dan Faye, sepasang kekasih dengan pribadi paling rasional diantara seluruh anggota dalam kelompok itu, melebihi pribadi Yanto, sang ketua kelompok. Serta Arbil, yang pribadinya membutuhkan ketenangan dari kepenatan dunia hiburan tempatnya menjadi bintang, dengan Chamae, Si Jago Masak yang menaruh perhatian lebih kepadanya. Sebelas pribadi yang unik ini mau tidak mau akan bersinggungan membentuk sebuah konflik, yang entah dapat mendewasakan mereka, membentuk pribadi yang lebih baik, atau malah mengantarkan mereka ke pintu gerbang kematian. Dan pintu itu kini terbuka lebar di desa Angsawengi.

“Tulisannya kecil banget, cuy,” adalah hal pertama yang muncul di pikiran saya saat pertama kali membaca novel ini. Novel berukuran A5 ini disajikan dengan ukuran font 10 atau 11. Pening bacanya, boy.

Tapi, harus Saya akui imajinasi Vinca ini super keren. Dengan ukuran tulisan yang kecil begitu, penyiar di salah satu radio di Bandung ini tetap dapat menghasilkan buku setebal 440 halaman. Coba bayangin sekarang, tulisannya dengan ukuran normal mungkin tebalnya bisa melebihi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang biasa dipakai bantal tidur. Salut deh, dengan imajinasi Vinca yang tidak ada batasnya.

Hal yang saya perhatikan lagi dari novel ini, kebetulan novel karya Vinca Callista pertama yang saya baca, adalah pribadi Vinca yang sangat puitis, well educated, dan well read. Kata-kata yang dituliskan seakan menari dan menyanyi membentuk sebuah pertunjukan kolosal dan epik dengan taman bunga Firdaus sebagai latar belakangnya, atau merungut dan menyumpah seperti kumpulan jiwa-jiwa busuk yang disiksa sampai kiamat dunia di Neraka Dante yang paling dalam.

“Dunia ini tidak sempit, tidak seperti pola pikir para orang tua kuno serta para anak muda keterbelakangan toleransi yang masih saja terkurung dalam penjara sikap dengan selalu memformal-formalkan situasi yang bisa disukseskan dengan kondisi kasual dan masih saja terjebak dalam…” (halaman 170)

Sebuah gaya menulis yang sangat menarik tetapi dengan mudah menjadi membosankan ketika gagasan utama yang disampaikan dalam kalimatnya dangkal. Itu yang terjadi pada awal hingga pertengahan novel ini.

Namun, pada pertengahan hingga akhir cerita, saya takjub mendapati gaya penulisan Vinca tersebut sangat kuat. Kesadaran saya seperti disedot masuk ke dalam desa Angsawengi dan menjadi bagian dari kelompok ini. Merasakan ketakutan mereka. Merasakan pandangan filosofis seorang Vinca.

” Wanita-wanita lainnya yang terobsesi kepada Arbil sampai-sampai tidak sadar dirinya telah mengidap erotomania – this psychological in which a person thinks that the person they love also loves them, tentu saja reaksional atas keputusan idola mereka untuk berhenti main film dan teater. What a fake supporters. They utterly only fans; kipas angin.” ( halaman 171)

Lagi, penggunaan istilah yang tidak umum sering digunakan dalam Novel ini. Juga percakapan yang kekinian dengan bumbu bahasa Inggris sebagai pemanis. Jujur, untuk saya yang tidak terbiasa bercakap diselingi dengan bahasa Inggris, percakapan mereka jadi tidak alami, dan kurang lebih, menggangu. Tapi mungkin efeknya akan beda-beda untuk tiap pembaca, layaknya sebuah krim kecantikan.

Satu lagi hal yang cukup menggangu, kali ini dalam konotasi positif, adalah penggunaan tanda baca dan panjang kalimat dan paragraf. Vinca, disengaja atau tidak, sering membuat kalimat hanya dengan jeda koma. Ditambah satu kalimatnya bisa sampai kurang lebih sepuluh baris. Membuat saya ngos-ngosan, tidak tahu kapan harus berhenti. Tapi efektif menambah ketegangan yang disajikan dalam ceritanya. But dear, next time use period, please.

Dengan dua poin diatas, yakinlah saya bahwa Novel ini bukan untuk pembaca awam. Ataupun, pembaca dengan kemampuan bahasa Inggris pas-pasan. Mungkin novel ini lebih cocok dinikmati oleh remaja, lebih masuk ke gaya hidup mereka. Mungkin lebih cocok lagi kalo disebut psychothriller teenlit dibanding Novel. Itu opini saya.

Jadi novel ini jelek?

Mengenyampingkan dua poin yang saya kritik tadi, Novel ini malah sangat menyenangkan. Dari sudut plot dan konflik, cerita yang tertuang dalam Seruak ini sangat mudah untuk dipahami. Keinginan karakter-karakter didalamnya untuk memperjuangkan perspektif mereka sangat lekat dalam kehidupan anak muda sekarang yang open-minded. Jadi untuk sebuah awalan untuk melangkah lebih jauh ke dalam genre thriller, Seruak adalah pijakan yang nyaman.

Tokoh-tokoh yang muncul dalam novel ini dibuat dengan sangat baik. Karakternya cukup dalam. Vinca menggambarkan karakter-karakternya dengan sangat baik hingga terasa sangat nyata. Ambil contoh, tokoh Lula, seorang gadis kaya yang manja. Vinca mengarahkan keribadian Lula dengan menyajikannya dalam dialog-dialog yang akrab dengan keseharian kita.

“Emangnya desa kita jauh ya dari sini? Lula udah mual banget nih! Kalian tahu kaaan… tadi tuh, pertama kalinya Lula naik Bus!” (halaman 20)

“Temen-temen, ini Lula bawa camilan banyak. Mama sama papa Lula baru pulang dari Turki. Kalian tahukan, Turki itu jauh.” (halaman 36)

“Coba waktu itu jadi pake mobil Lula yang SUV ya? pasti nggak akan kejeblos. Sayangnya, Papa enggak ngasih izin Lula pake mobil yang itu, soalnya mobil impor mahal. Kalo pake mobil Lula yang sedan sih enggak mau, desanya di pedalaman, mana kumuh gini…” (halaman 40)

Contohnya saya, dengan dialog seperti itu, langsung terbayang tokoh Saschya (diperankan oleh Winda Viska) dalam sitkom OB, sebagai penggambaran saya akan Lula. Mungkin ada juga yang membayangkan Sa’Odah sebagai Lula. Tapi ya, kecil kemungkinannya.

Sascha OB (sumber: www.google.com)

Sascha OB (sumber: http://www.google.com)

Pensuasanaan yang dibentuk oleh Novel ini juga sangat kuat. Puzzle-puzzle misteri membanjiri pembacanya bab per bab. Saya, sebagai pembaca, merasa seperti diberi keleluasaan untuk menyusun puzzle semau saya, tapi akhirnya diacak-acak lagi ketika memasuki bab selanjutnya. Saya dibuat frustasi oleh misteri yang disajikan setengah-setengah. Belum habis satu misteri dipecahkan, keluar misteri baru lagi. Mungkin ini yang dirasakan Faye di desa Angsawengi. Dan saya ikut merasakannya berkat kecerdikan Vinca dalam membentuk suasana.

Belum lagi, alur cerita sangat kompleks. Hubungan antar tokoh, hubungan para tokoh dengan Desa Angsawengi, yang hilang kemudian kembali, yang kembali lalu hilang, semuanya diramu dengan apik menghasilkan alur cerita mengerikan yang membelut para tokoh.

Seperti kehadiran kembali sosok Nina dan Bonie dalam kehidupan Mada yang telah terpisah selama kurang lebih 17 tahun, dan arti hadirnya mereka dalam kehidupan Mada. Sebuah pengembangan hubungan antar tokoh yang tidak terduga-duga.

Selain itu, kembali harus saya akui bahwa Vinca Callista adalah seorang periset yang baik. Novel ini selain menghibur dari sisi cerita juga memberikan pengetahuan yang lebih dalam ilmu kejiwaan dan psikologi. Informasi yang disajikan dan fakta-fakta yang mendukung sebagian besar akurat. Juga pandagan filosofis Bonie yang sangat menarik untuk didalami lebih jauh.

Akhirnya, Novel Seruak karya Vinca Callista ini adalah sebuah bacaan yang cerdas dan menegangkan dalam memahami pandangan bahwa dunia bukan lagi masalah baik dan buruk maupun benar atau salah. Karena nilai etis dan kebenaran subyektif telah menjadi sangat dogmatis untuk orang-orang konservatif yang memilih hanya untuk melihat dari kaca mata kuda miliknya. Dunia kini, hanyalah tegangan antara setuju atau tidak setuju.

***

Judul: Seruak, A Psychothriller Novel

Penulis: Vinca Callista

Penerbit: Grasindo
Tebal: 440 halaman

***

Penulis :

DSC05240 300p

Gede Surya Marteda

@GedeMarteda

linguist and science addict

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s