Kineruku: 11 Tahun Menggapai Mimpi


Suasana dalam perpustakaan Kineruku (sumber: Kineruku.com)

Suasana dalam perpustakaan Kineruku (sumber: Kineruku.com)

Sore itu, sehabis hujan mengguyur dengan derasnya, orang-orang berkumpul di teras sebuah rumah di Jalan Hegarmanah no. 52, Bandung. Cangkir-cangkir teh dan kopi serta camilan telah tertata dengan rapi di masing-masing meja, sembari orang lalu lalang mengatur letak kursi untuk mendapatkan posisi yang paling nyaman.

Saat saya bilang semua orang, itu termasuk saya sendiri yang mengambil posisi paling dekat dengan taman. Setelah dapat setelan kursi yang pas, saya relakan saja tubuh saya bersender pada kursi kayu itu sambil menghidupkan rokok yang sedari tadi terselip diantara jari tengah dan telunjuk tangan kanan saya. Dua orang wanita dan seorang pria telah duduk di depan saya dan teman-teman yang hadir di Kineruku saat itu. Ternyata saya berkunjung tepat pada perayaan 11 tahun berdirinya Kineruku, perpustakaan rumahan yang mengusung konsep “buku, film, dan musik” dan salah satu perintis dari tren taman bacaan di Bandung.

11 tahun berdirinya Kineruku ini dirayakan dengan acara diskusi tentang mengelola perpustakaan sendiri. Supaya lebih catchy, diskusi ini diberi judul SERUKU 2: Mengelola Perpustakaan. Jalannya diskusi ini dipandu oleh Mbak Atit (salah satu sineas muda bandung juga salah satu anggota di Kineruku) dengan Budi Waskito dan Ariani Darmawan, yang lebih akrab disapa Budi dan Rani (pemilik dan pengelola Kineruku) sebagai narasumbernya. Orang-orang yang hadir terbukti sangat antusias dalam mengikuti diskusi tersebut. Beberapa menggengam buku dan pulpen bersiap untuk mencatat, beberapa mengambil jalan yang lebih praktis dengan merekam jalannya diskusi, beberapa sangat pede dengan ingatan mereka sehingga hanya memerhatikan tanpa mencatat atau merekam. Saya termasuk tipe yang pertama, berhubung ingatan bukanlah salah satu kemampuan yang saya unggulkan dan alat perekam terbukti cukup mahal untuk kantong tipis mahasiswa, atau mungkin hanya saya.

Kineruku, awalnya bernama Rumah Buku, pertama kali dibuka pada tanggal 29 Maret 2003 oleh Rani dengan hanya bermodalkan 400 buku koleksi pribadi miliknya dan rumah peninggalan kakeknya. Ide untuk membuat sebuah perpustakaan mini ini sebenarnya muncul dari kejengahan seorang Rani melihat kondisi perpustakaan yang ada di Indonesia. Rani begitu bersemangat menceritakan pengalamannya saat bersekolah di Chicago, Amerika Serikat. Perpustakaan di sana sangat lengkap, nyaman dan mudah diakses. Selain perpustakaan, banyak juga yang menjual buku bekas yang masih layak untuk dibaca. “Di setiap blok pasti ada toko yang menjual buku bekas,” tuturnya. Dia kemudian membandingkan dengan kondisi perpustakaan yang ada di Indonesia yang terkesan angker dan dijauhi. Bagi Rani yang memiliki kecintaan yang sangat dalam terhadap buku, kondisi tersebut sangatlah jauh dari ideal. Berangkat dari kejengahan itu, Rani akhirnya memberanikan diri untuk membuat perpustakaannya sendiri bersama Oky Kusprianto. Pada awal terbentuknya, Kineruku telah berusaha untuk menjadi sebuah usaha yang mandiri. Semua dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan Kineruku berasal dari dompet Rani dan Oky pribadi, ditambah sedikit bantuan dari teman dekat dan keluarga.

Kecintaan Rani terhadap buku sebenarnya dapat ditarik sulurnya dari keluarga besarnya. Rani yang berlatar belakang keluarga yang cukup berpendidikan, mau tidak mau mewarisi kecintaan terhadap literasi ini dalam darahnya. Namun agak berbeda dengan partnernya, Budi Waskito.

Budi berasal dari daerah Sukoharjo, Jawa Tengah, yang akses terhadap buku ataupun literatur lainnya sangatlah minim. “Yang disebut perpustakaan di SD waktu itu hanya satu rak penuh buku yang ada tepat di belakang kantor kepala sekolah yang galak,” kenangnya. Pengalamannya berkunjung ke perpustakaan daerah Kabupaten Sukoharjo saat berada di kelas 5 SD membuka wawasannya dan menyuburkan kecintaanya terhadap buku, dan itupun bukan tanpa cerita. Awalnya, Budi kecil tidak diizinkan untuk menjadi anggota perpustakaan tersebut. “Tidak boleh karena masih terlalu muda,” lanjut Budi. Tapi bukan Budi namanya kalau mudah menyerah. Dia akhirnya tiap hari mengunjungi perpustakaan tersebut, kadang bersepeda atau berjalan kaki, yang akhirnya membuat penjaga perpustakaan luluh hatinya dan mengizinkannya menjadi anggota sekaligus anggota termuda dari perpustakaan tersebut saat itu. “Saya masih ingat nomer anggota saya, 281,” ucapnya dengan bangga.

Tergantung Selera

“Pasar bisa diciptakan,” begitu pria ini mengutip kalimat dari walikota Bandung, Ridwan Kamil. Begitulah prinsip yang selalu dipegang oleh dua orang yang menghidupkan Kineruku ini. Mereka tampil beda. Merekalah yang pertama kali menggiatkan perpustakaan, dimana pada tahun 2003 membaca belumlah menjadi hal yang “seksi”. Mereka, lewat Kineruku, juga berani untuk menyajikan musik dan film yang “nyeleneh” dari pasar film dan musik umumnya dengan mengedepankan musik dan film independent yang saat itu memang sangat sulit untuk ditemukan di Indonesia juga sedikit peminatnya. Buku-buku yang tidak lazim ditemukan di taman bacaaan atau toko buku lain seperti seperti filsafat, sosiologi, sejarah, desain, dan beberapa yang kontroversial malah dengan mudah ditemukan di perpustakaan Kineruku ini.

Koleksi CD musik Kineruku yang dapat disewa (Sumber: Kineruku.com)

Koleksi CD musik Kineruku yang dapat disewa (Sumber: Kineruku.com)

Kedua pasangan ini berpendapat bahwa buku, film, dan musik, baik dari dalam maupun luar negeri masih bisa digali lebih jauh.  “Padahal banyak (buku, film, dan musik) yang bagus, tapi anehnya Indonesia selalu hanya dapat ampas-ampasnya,” ujar Rani. Keengganan untuk mempelajari hal baru masih menjadi kekurangan yang harus dibenahi dari pola pikir masyarakat. “Orang yang bilang hanya suka pada satu jenis musik atau film dan tidak suka dengan lainnya, berarti ada dua kemungkinan: antara dia belum banyak mendengarkan musik atau menonton film atau memang menganggap jenis kesukaannya adalah yang paling baik,” tambah Rani.

Keberanian yang mereka pegang akhirnya membuahkan hasil manis. Bayu, mantan manajer The S.I.G.I.T yang waktu itu juga masuk dalam keanggotaan Kineruku, menawarkan diri untuk menjadi bagian pemasaran Kineruku. “Tempat ini cool,” kata Budi sambil menirukan cara Bayu berbicara. Dari Bayu, Kineruku berhasil menjalin kerjasama dengan Zune (majalah anak muda Bandung saat itu) untuk menyelenggarakan music event di Kineruku. Beberapa band indie ternama seperti The Trees and The Wild, White Shoes and The Couple Company, serta Efek Rumah Kaca sempat manggung di taman rumput, halaman belakang Kineruku. Sejak saat itu, Kineruku semakin terkenal diantara kalangan muda Bandung.

Walaupun semakin terkenal, Rani dan Budi tidak mau melenceng dari tujuan awal mereka mengembangkan Kineruku. Mereka tidak mau terjebak arus dengan menawarkan buku, musik ataupun film popular yang tidak sesuai dengan selera mereka. “Kurasi sangat penting,” tegas Rani. Menurut mereka, sebuah perpustakaan itu ada dengan motivasi yang berbeda-beda dan sangat khusus. “Kami ingin menawarkan (buku, musik, dan film) yang lebih dalam,” lanjutnya.

Stagnan atau berkembang

Kineruku, dibangun dari dua suku kata, kine dan ruku. Kine diambil dari kata Cinematic, dalam bahasa Indonesianya sinematik, dan Ruku diambil dari singkatan Rumah Buku (cikal bakal Kineruku). Sebenarnya, Kineruku mula-mula memang hanya merupakan sebuah divisi dari Rumah Buku yang melingkupi film dan musik. Divisi Kineruku ini dikembangkan oleh Budi ketika telah bergabung dengan manajemen Rumah Buku pada akhir tahun 2008. Setelah 7 tahun menggunakan nama Rumah Buku, pada tahun 2010 Rani dan Budi dihadapkan pada permasalahan baru, paten. Nama Rumah Buku ternyata telah dipatenkan oleh usaha lain sehingga “Rumah Buku” milik Rani dan Budi terpaksa bertranformasi menjadi Kineruku.

“Tiga tahun awal (Kineruku) adalah masa yang berdarah-darah,” kenang Rani. Memang menjalankan sebuah bisnis yang tidak popular, apalagi perpustakaan, bukanlah hal yang mudah. Kineruku sendiri pada awal perjalanannya juga mengalami nasib yang sama dengan perpustakaan-perpustakaan lain, sepi pengunjung. Seorang pengunjung, pada saat itu, diperlakukan bak raja. “Waktu itu saking senangnya ada pengunjung, sampai saya sendiri yang menawarkan untuk membuatkan teh atau kopi,” kata Rani. “Sedikit berlebihan memang,” tambahnya dibarengi gelak tawa di sepanjang teras.

Kineruku, pada saat itu, hanyalah pekerjaan sampingan untuk Rani dan Budi. Rani dengan pekerjaan utamanya membuat film-film pendek dan Budi dengan kesibukannya sebagai creative di Extravaganza, acara komedi di sebuah saluran televisi swasta. Kineruku (yang pada saat itu masih dengan nama Rumah Buku) pun sempat mengalami masa “tanpa tuan” di tiga sampai lima tahun awal dibentuknya. Sampai pada tahun 2008, Rani dan Budi memutuskan untuk fokus mengembangkan Kineruku. “Ini pilihan antara stagnan, gitu-gitu aja, atau maju. Mundur sudah bukan pilihan,” ucap Rani.

Tim Kineruku (sumber: Indonesiakreatif.net)

Tim Kineruku (sumber: Indonesiakreatif.net)

Kini setelah 11 tahun berdiri, Kineruku telah punya tempat di hati anak-anak muda Bandung. Mengembangkan Kineruku adalah tugas yang sangat berat dan tidak mungkin diemban hanya oleh dua insan. Kesuksesan Kineruku juga tidak lepas dari peran-peran orang seperti Rahmat Arham (Manajer Program), Suryani (Manajer Operasional), dan Ristanto (Staf Operasional) yang berdedikasi tinggi untuk bersama mengembangkan Kineruku. Juga dengan beberapa orang yang telah banyak membantu Kineruku seperti Bayu dan Annex yang tetap peduli walaupun tidak lagi berada di dalam tim manajemen. Alhasil, dengan kerja keras yang mereka lakukan Kineruku kini telah memiliki anggota lebih dari 2000 orang.

Sebuah pertanyaan menarik dilontarkan di penghujung diskusi santai sore itu, “Apakah Kineruku akan dijadikan franchise?” Keduanya setuju bahwa kemungkinan itu tetap ada walaupun tidak direncanakan untuk beberapa tahun kedepan. “Kita juga belum kebayang kedepannya akan (berkembang) seperti apa,” kata Budi. Budi, Rani, dan Atit menutup diskusi hari itu dengan meniup lilin ulang tahun Kineruku dengan sebuah doa yang tanpa perlu persetujuan, diiinginkan oleh seluruh orang yang hadir disana, bahwa Kineruku tetap dapat terus memberi manfaat pada semua.

 

Penulis :

DSC05240 300p

Gede Surya Marteda

@GedeMarteda

linguist and science addict

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s