The Unlikely Pilgrimage of Harold Fry


Sebuah ziarah yang dilakukan untuk menolong seorang sahabat,
perjalanan yang berujung maut dan kebahagiaan

Harold Fry, seorang yang menjalani masa pensiunnya, memulai hari Selasa itu dengan  duduk di meja makannya, memandang kosong ke luar dan tidak memakan roti panggang yang telah disediakan oleh istrinya. Ia dan istrinya, Maureen, bersama-sama tinggal di Kingsbridge, suatu daerah di selatan Inggris. Seketika, datanglah sebuah surat untuk Harold yang berasal dari Beerwick-upon-Tweed. Beerwick-upon Tweed merupakan suatu daerah yang berada jauh di utara, lebih tepanya di perbatasan Skotlandia. Surat tersebut dikirim oleh Queenie Hennessy, seorang rekan kerja Harold di masa mudanya, yang sebenarnya hampir terlupakan. Dalam surat itu, Queenie berkata bahwa ia mengidap kanker dan sekarat. Harold pun menulis surat balasan, dan berjalan ke kotak pos terdekat yang berada di ujung jalan. Ternyata, Harold tak pernah kembali.

Dalam perjalanan menuju kotak pos tersebut, Harold bergumul dengan pikirannya. Lalu ia bertemu dengan seorang gadis penjaga toko yang mempunyai bibi yang mengidap kanker. Gadis itu berkata, bahwa percaya pada sesuatu yang tidak kita tahu dan berusaha untuk tetap mempunyai iman dapat mengubah keadaan dan memberi harapan pada seseorang. Pada akhirnya dia memutuskan untuk melakukan suatu perjalanan ziarah dengan berjalan kaki  ke Beerwick-upon-Tweed, yang berjarak 620 mil jauhnya, setara dengan jarak Jakarta-Surabaya atau kira-kira 4 perjalanan pulang pergi Jakarta-Bandung. Jarak tersebut ia tempuh demi menyelamatkan nyawa Queenie.

Tanpa peralatan untuk perjalanan jauh seperti sepatu boots atau peta, Harold berjalan kaki menuju tempat tujuannya, denga harapan agar Queenie dapat sembuh seperti sedia kala. Selama perjalanan, ia selalu menjaga hubungannya, baik dengan istrinya, Queenie, bahkan sang gadis penjaga toko. Banyak jenis manusia yang ia temui selama perjalanan, manusia yang memaki-makinya karena ia tidak berjalan di trotoar, manusia yang menolongnya ketika kakinya terluka, manusia yang mendukungnya, manusia yang menganggapnya bodoh, bahkan manusia yang tertarik dengan ziarahnya tersebut. Perjalanan Harold memang tidak terlepas dari sorotan media, sehingga kemudian beberapa orang memutuskan untuk berjalan bersama Harold, yang ternyata sangat membantu Harold, tapi juga menyulitkannya.

Pada ziarah ini juga, Harold semakin sadar bahwa banyak sisi kehidupan masa lalunya yang sudah lama ia lupakan. Pada lamunannya di sepanjang perjalanan, ia mengingat ibunya, ayahnya, istrinya, bahkan anaknya yang sudah lama tidak pernah ia temui. Di akhir perjalanannya, ia sampai pada tujuannya. Tujuannya tercapai, walaupun suatu pencapaian tujuan pasti akan membutuhkan beberapa pengorbanan.

Pada buku ini, Rachel Joyce membawa kita pada petualangan yang sederhana. Tanpa sesuatu yang rumit, tanpa teknologi yang modern, Rachel menegaskan suatu perjalanan dengan kesederhanan yang paling memuaskan : berjalan kaki. Sesederhana petualangannya, tulisan yang ia buat pun dapat dengan mudah diimajinasikan. Perasaan dan kenangan yang menggelayuti pikiran Harold selama perjalanannya tergambar dengan simpel dan  menyenangkan, juga terkesan pahit dan menyedihkan. Setiap kota atau tempat yang dikunjungi Harold pun terasa nyata karena penulis telah melakukan riset dan studi di kota-kota tersebut.

Tulisan ini pada awalnya akan membuat kita tak sabar dengan perjalanan yang akan dilakukan Harold. Kemudian, setelah mengetahui apa yang akan Harold lakukan dan  pola tulisannya mulai terbaca, Rachel dengan sangat baik mengubah tempo cerita menjadi cepat dan tak terduga. Twists pada bagian akhir dari buku ini sangat menarik untuk ditunggu dan, menurut saya, cukup menarik dan membuka fakta-fakta yang tidak saya sadari sedari awal saya membaca buku ini.

Buku ini termasuk dalam Shortlist Desmond Elliot Prize 2012 dan juga 2012 Man Booker Prize, keduanya merupakan suatu penghargaan untuk literasi di Inggris Raya. Buku ini sangat menarik untuk dibaca semua kalangan, baik tua maupun muda, baik yang suka berpetualang maupun tidak. Buku ini dapat membuka pikiran kita untuk melakukan suatu hal yang baru, untuk membentuk suatu harapan, seperti yang Harold katakan pada istrinya, “If we don’t go mad once in a while, there’s no hope.”

Buku : The Unlikely Pilgrimage of  Harold Fry

Pengarang : Rachel Joyce

***

Penulis

rian_author

Rian Setiadi

@RianSetiadi

Kapten, Penyelam, Mantan Mahasiswa Berprestasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s