For One More Day: Semua Keluarga Adalah Sebuah Cerita Hantu


For One More Day adalah kisah tentang seorang ibu dan anak laki-lakinya, kasih sayang abadi seorang ibu. Dan pertanyaan berikut ini: apa yang akan kau lakukan seandaninya kau diberikan satu hari lagi bersama orang yang kau sayangi, yang telah tiada?

Cover Buku (sumber: bukumurah.blogspot.com)

Cover Buku (sumber: bukumurah.blogspot.com)

Setelah membaca itu, saya balikan lagi ke cover depan, dengan pemain bisbol menjadi gambar utamanya. Saya bolak-balik lagi sekitar dua atau tiga kali menimbang apakah buku ini yang akan saya beli. Saya sudah pernah membacanya sekali jadi agak bingung juga mau saya jadikan koleksi atau tidak. “Ya sudahlah,” saya pikir. Mitch Albom ada dijejeran buku di rak saya bukanlah hal yang buruk.

Buku ini menceritakan tentang Charley, mantan atlit bisbol terkenal yang hidupnya perlahan-lahan hancur setelah kematian Ibunya, Posey. Dia berubah menjadi pribadi yang kebingungan, sehingga hari-harinya dihabiskan dengan menegak alkohol dan penyesalan. Kehidupannya terus menurun sampai pada suatu titik dia putuskan untuk bunuh diri. Tapi gagal. Dia justru dibawa kembali ke rumah masa kecilnya dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya, yang meninggal 8 tahun yang lalu, masih di sana dan menyambut kepulangannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Saya pernah membaca buku lain dari Mitch seperti Meniti Bianglala (Five people you met in Heaven) atau Have a little faith yang keduanya adalah buku favorit saya dari pertama kali saya membacanya, bisa dibilang love at the first sight. Tapi tidak dengan buku ini. Memang bukunya bagus, tapi ya sudah sampai situ tanpa naik lagi statusnya ke Istimewa. Bukunya bagus, tapi tidak istimewa. Itu kesan saat pertama kali membaca.

Tapi setelah sore itu, saya berubah pikiran. Buku ini bukan hanya bagus atau istimewa, tapi masterpiece. Membaca untuk kedua kalinya, saya sudah tahu gambaran umum ceritanya seperti apa, jadi saya tidak terburu-buru untuk menyelesaikan sampai halaman terakhir. Saya berikan waktu untuk otak saya mencerna tiap kata dan kalimat yang dilihat oleh mata saya.

Dari mata turun ke hati, dari hati naik lagi ke mata jadi air mata.

Jujur, saya sedikit emosional dengan pengalaman membaca saya yang kedua kali ini. Cara penyampaian Mitch dengan perspektif orang pertama ini benar-benar menyetir emosi saya sebagai pembaca. Tutur katanya yang mantap dan pasti, membuat saya berpikir bahwa sayalah tokoh yang ada dalam buku tersebut. Bayangkan kalo anda dalam posisi Charley. Anda merasakan perasaan yang sama dengan Charley yang bertemu lagi dengan Ibunya. Maka sedikit air mata, walaupun anda laki-laki, adalah hal yang wajar.

“Saat kau menatap dalam-dalam ke matanya, kau tahu itulah cinta yang paling murni di dunia” Mitch Albom

Konflik-konfliknya terbangun dengan cukup baik. Konflik dalam keluarga, antara dia, Ayahnya, dan Ibunya. Konflik antara kasih sayang dan pengakuan. Mitch menambahkan beberapa catatan asli milik Charley “Chick” Benetto untuk memperkuat perspektif yang telah dibangunnya dari awal cerita. Chick, yang menuliskan beberapa hal tentang bagaimana tidak seimbangnya hal yang telah dia berikan pada ibunya dan yang ibunya berikan padanya, membuat kita mengerti tentang penyesalan yang sangat mendalam dari seorang anak kepada seorang ibu. Saya mungkin bukan termasuk tipe yang sangat dekat dengan keluarga, tapi cerita Charley ini sedikit mengguncang jiwa saya, dan membuat saya langsung menelepon Ibu, yang biasanya hampir tidak pernah saya lakukan.

Pengalaman yang dialami oleh Charley mungkin saja bisa terjadi pada semua orang. Setiap orang pernah kehilangan mimpinya. Setiap orang pernah sedikit menyia-nyiakan keberadaan orangtuanya. Atau juga merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Kita semua mungkin menjadi Charley.

“Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.”Charley “Chick” Benetto

Saya menyadari buku ini berusaha memberitahu pembacanya bahwa sebenarnya batas antara keputusasaan dan normal itu tidaklah ada. Tidak ada garis nyata antara kedua keadaan tersebut. Yang ada hanyalah hidup kita sendiri dan kemungkinan kita mengacaukannya, dan siapa yang ada saat itu untuk menyelamatkan kita. Charley diselamatkan Ibunya.

“Ini kisah sebuah keluarga dan, karena ada keterlibatan sesosok hantu, kau bisa menyebutnya cerita hantu. Tapi semua keluarga adalah sebuah cerita hantu. Mereka yang sudah meninggal, tinggal duduk di meja kita lama setelah mereka pergi.”Mitch Albom

Akhirnya, buku ini selalu menjadi sebuah cerita hantu yang kita sebut dengan keluarga. Mereka yang telah lama pergi, kenangannya akan selalu bersama kita. Menjadi sebuah sosok yang menenangkan. Menjadi Posey untuk Charley. Dan, Mitch menceritakannya dengan sangat indah, mengagumkan.

***

Penulis :

DSC05240 300p

Gede Surya Marteda

@GedeMarteda

linguist and science addict

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s