Indonesia Dipenuhi Zombie


Pendidikan di Indonesia masih berkutat pada paradigma lamanya, mencetak pekerja yang manut. Sistem pendidikan di Indonesia yang masih menerapkan jam belajar yang panjang dan tugas yang harus dibawa pulang, tidak memberikan keleluasaan bagi anak didik untuk mengembangkan passion yang mereka miliki. Pendidikan Indonesia, pada akhirnya hanya bisa mencetak zombie.

Pandji Pragiwaksono mengisi sesi dalam Lego Ergo Scio

Pandji Pragiwaksono mengisi sesi dalam Lego Ergo Scio

Itulah buah pikiran yang disampaikan oleh Pandji Pragiwaksono pada pelaksanaan acara Lego Ergo Scio yang diselenggarakan oleh Grup Berita Kompas, bekerja sama dengan Kota Baru Parahyangan  dan Majalah Ganesha ITB, Selasa (18/2) lalu. Acara Talkshow ini diselenggarakan di Aula Barat ITB dan dihadiri oleh sekitar 200 orang dari berbagai kalangan, baik mahasiswa dari Kampus ITB sendiri maupun dari kampus-kampus lain dan umum.

Acara Lego Ergo Scio ini diisi oleh tiga pembicara, antara lain Trinity (penulis blog dan buku Naked Traveler), Pandji Pragiwaksono (penulis dan stand-up comedian) dan Arbein Rambey (Redaktur Foto di Harian Kompas). Acara ini dipandu juga oleh Soni Sebastian sebagai MC yang mampu membuat acara yang berkesan serius ini menjadi lebih santai.

“Saya sudah melakukan perjalanan ke 30 provinsi di Indonesia, serta 64 negara yang berbeda” ujar Trinity. Penulis yang telah menghasilkan 8 buku ini memang merupakan salah satu penulis buku traveling yang paling banyak diminati di Indonesia, bahkan mancanegara, saat ini. Cerita perjalanan yang tidak hanya menyajikan keindahan dan senangnya traveling, tapi juga kesulitan dan tantangan yang dialami saat traveling ini menjadi kunci kesuksesan Trinity sebagai seorang penulis. “Kalau traveling, cari yang orang lain belum temukan,” tambahnya.

Trinity sendiri sudah pernah mengunjungi hampir seluruh benua di Dunia. Namun, Amerika Latin dan Asia masih merupakan pilihan utamanya dalam melakukan perjalanan,  khususnya ke negara-negara berkembang di belahan dunia tersebut. “Selalu ada cerita baru ketika mengunjungi negara berkembang,” katanya. Trinity menceritakan beberapa pengalaman uniknya saat melakukan perjalanan, salah satunya saat dia berada di Filipina. “Waktu itu saya lagi jalan-jalan di Filipina bersama teman-teman, salah satu teman saya tersenggol hingga sandalnya putus, ya saya marahi dan suruh perbaiki,” ungkap Trinity. Ternyata setelah sampai di tempat tujuan barulah dia sadar bahwa yang dimarahi itu seorang pejabat yang terkenal di Negara tersebut.  “Cuman saya yang pernah menyuruh pejabat tinggi di Filipina buat benerin sandal teman saya,” kenang wanita asal Jakarta ini.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan juga terjadi saat melakukan tur keliling dunianya pada tahun 2009. Saat dia berada di Kepulauan Galapagos, Trinity menemukan sebuah kehidupan harmonis yang aneh antara manusia dan satwa liar disana. “Sambil nunggu Bus, di depan lo bisa tiba-tiba lewat singa laut. Singa laut,” ungkapnya sembari tertawa.

Walaupun telah melakukan perjalanan keliling dunia, Trinity mengaku Indonesia tetap menjadi negara yang paling dikangeninya. “Semakin saya melakukan perjalanan,” kata Trinity, “semakin saya merasa bahwa Indonesia ini potensinya luar biasa.” Menurut penulis Naked Traveler ini, salah satu faktor yang paling mendukung pariwisata di suatu negara adalah Infrastruktur dan pola pikir masyarakat yang melek pariwisata. “Peru menjadi negara dengan kepuasan pariwisata yang paling tinggi karena keramahan dan lengkapnya infrastruktur pariwisatanya,” tegas Trinity.

Perempuan yang mengambil gelar Masternya di Filipina ini mengatakan bahwa yang menjadi faktor pembeda utama pada sektor pariwisata adalah pengelolaan obyek wisata itu sendiri. Keseriusan pemerintah dalam mengelola pariwisatanya secara tidak langsung akan meningkatkan wisatawan tiap tahunnya. Trinity juga mengritik bahwa kegiatan jalan-jalan atau traveling ini haruslah dibarengi dengan rasa tanggung jawab sebagai pribadi. Setelah sesi talkshow dengan Trinity berakhir, jeda sesi diisi oleh band dari Kompas.

Di sesi berikutnya, giliran Pandji Pragiwaksono yang bercerita tentang kecintaanya pada buku dan profesi yang kini dijalaninya. “Saya pikir kalau masuk Seni Rupa, tidak akan banyak baca buku,” kenang Pandji yang merupakan lulusan ITB di bidang Desain Produk. Pandji berusaha menyampaikan idenya bahwa kurangnya minat membaca buku di kalangan masyarakat itu berakar pada rendahnya aktualisasi diri. “Seharusnya bukan menumbuhkan minat baca, tapi minat, titik,” tegas Pandji. Pandji merasa bahwa minat membaca akan sendirinya tumbuh jika masyarakatnya telah sadar sepenuhnya dengan passion pribadinya.

Salah satu pelopor Stand-up comedy di Indonesia ini menyadari bahwa menumbuhkan minat di Indonesia bukanlah perkara mudah. Tantangan utamanya terletak pada sistem pendidikan di Indonesia sendiri. Pandji melihat fakta bahwa pengusaha di Indonesia masih sekitar 1,56% dibandingkan Malaysia atau Thailand yang memiliki persentase pengusaha hingga 5% atau Singapura yang bahkan memiliki persentase pengusaha mencapai 11% itu sebagai indikator bahwa pendidikan Indonesia belum bisa terlepas dari paradigma lama pendidikan yaitu mencetak pekerja yang manut perintah. Manusia luaran pendidikan Indonesia hanya bisa menikmati tanpa bisa menciptakan.

Pandji kemudian membandingkan sistem pendidikan Indonesia dengan Finlandia, yang diakui memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Di Finlandia waktu belajar formal di sekolah sangat sedikit, bahkan pekerjaan rumah, yang lumrah ada di Indonesia, baru diberikan pada tingkat pendidikan sekelas SMA. Pandji percaya bahwa  kelonggaran pendidikan formal tersebut memberikan keleluasan lebih pada peserta didiknya untuk lebih mengembangkan minat yang mereka miliki. “Pendidikan seharusnya dirancang untuk memberikan pilihan seluas mungkin untuk anak,” ujar Pandji dengan mantap.  Namun dibalik itu semua, Pandji juga mengingatkan bahwa sistem pendidikan seperti itu hanya dapat berjalan baik bila peran orang tua sebagai pendukung pengembangan kapasitas anak telah optimal.

Sesi penandatanganan buku oleh Pandji

Sesi penandatanganan buku oleh Pandji

Selain soal pendidikan, Pandji juga mengajak peserta talkshow tersebut untuk melihat kembali toleransi antar masyarakat di Indonesia. Tindak kekerasan, pelecehan, diskriminasi atas nama agama, suku, dan ras masih menghantui negara merdeka yang kita sebut Indonesia ini. Pandji berprinsip, “tanpa membenci, hidup kita akan lebih bahagia.” Pandji juga berpesan bahwa sebelum memutuskan untuk membenci sesuatu, kita harus mencoba dulu untuk memahami. “Kita harus belajar untuk menjauhi ajakan berkelahi (konflik), dan hanya mendekat untuk ajakan diskusi,” tambah penulis yang juga berprofesi sebagai rapper ini sekaligus menutup sesi kedua.

Sesi ketiga diisi oleh Arbain Rambey, redaktur foto di harian Kompas. Arbain yang telah berkecimpung lebih dari 35 tahun di bidang fotografi jurnalistik memberikan penjelasan singkat tentang apa yang dimaksud fotografi jurnalistik itu sendiri. Sesi ini lebih banyak diisi dengan penjelasan tentang bagaimana menjadi fotografer jurnalistik yang baik. Arbain, yang saat talkshowmenggunakan kaus hitam bertuliskan BATAK itu menegaskan bahwa foto jurnalistik itu bukan tentang tehnik fotografi namun kejelian melihat masalah. Banyak membaca Koran dan buku mempertajam kemampuan seorang fotografer jurnalistik dalam membaca suatu peristiwa dan kemudian menggambarkannya. “Foto yang baik sudah jadi sebelum dipotret,” kata Arbain.

Menurut Arbain, foto jurnalistik itu adalah masalah interpretasi. Realita yang ditampilkan dalam sebuah foto bisa jadi bukan realitas seperti apa yang kita bayangkan. Namun, bukan berarti kita bisa merekayasa makna yang tersirat dari foto itu sendiri. Fotografi jurnalistik hendaknya menjunjung tinggi kejujuran dan independensi.

Arbein Rambey (sumber: itb.ac.id)

Arbein Rambey (sumber: itb.ac.id)

Tugas utama seorang fotografer jurnalistik adalah untuk mendapatkan gambar terbaik dari suatu peristiwa, walaupun terkadang bukan dari karyanya sendiri atau harus membeli dari orang lain. Fotografer jurnalistik muda masih terlalu terfokus pada mendapatkan gambar dengan tehnik-tehnik yang sulit sehingga sering gagal dalam mengabadikan momen yang penting. “Jangan malu pake auto dan jangan bangga jika pakai manual,” pesan Arbain kepada peserta talkshow. Menurut alumni Teknik Sipil ITB ini, fotografi jurnalistik berfokus pada komposisi, momen, dan posisi pengambilan gambar. Dengan kombinasi ketiga hal tersebut ditambah tehnik yang baik maka seorang fotografer jurnalistik dapat membuat foto yang bagus dan indah.

Selain ketiga sesi talkshow tersebut, acara Lego Ergo Scio ini juga diselingi oleh pembagian door prize dan simulasi pemilu yang diselengarakan oleh Kompas yang bertajuk Indonesia Satu. Pada simulasi pemilu ini peserta diberikan contoh pengisian lembar suara dengan masing-masing kandidatnya mewakili karakter pemimpin yang dikehendaki oleh masyarakat Indonesia. Ada empat karakter sebagai kandidat yaitu jujur, anti korupsi, negarawan dan  adil. Simulasi pemilu diakhiri dengan mencelupkan jari kelingking pada tinta biru. Dengan simulasi pemilu ini, Kompas menegaskan dirinya sebagai salah satu garda terdepan informasi Pemilu 2014 ini.

***

Penulis :

DSC05240 300p

Gede Surya Marteda

@GedeMarteda

linguist and science addict

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s