The Fault in Our Stars


The Fault in Our Stars

  • Penulis: John Green
  • Genre: Young Adult Literature
  • Best Young Adult Fiction Goodreads Choice Awards 2012

Novel ini mengisahkan tentang kehidupan Hazel Grace, remaja berusia 16 tahun pengidap kanker paru-paru stadium akhir. Dengan dorongan ibunya, ia mengikuti Kelompok Support Remaja Pengidap Kanker dan bertemu Augustus ‘Gus’ Waters, seorang survivor kanker tulang yang hadir pada pertemuan tersebut untuk menyemangati temannya.

“Akan tiba saatnya ketika kita semua mati. Dan tidak ada lagi umat manusia yang tersisa  untuk mengingat bahwa manusia pernah ada atau spesies kita pernah melakukan sesuatu. Tidak akan ada siapa pun yang tersisa untuk mengingat Aristoteles atau Cleopatra, apalagi mengingatmu. Semua yang kita lakukan, dirikan, tuliskan, pikirkan, dan temukan akan terlupakan dan semuanya ini, tidak akan ada artinya. Mungkin saat itu akan segera tiba, mungkin juga masih jutaan tahun lagi. Jika kau khawatir  dilupakan untuk selamanya oleh manusia, aku mendorongmu untuk mengabaikannya saja. Tuhan tahu, itulah yang dilakukan semua orang lainnya.”

Pandangan sarkasme Hazel dalam menghadapi hidup dan sikap apatisnya pada kematian membuat Gus terpesona. Berdua, mereka menjalani aktivitas remaja normal pada umumnya: menonton film, bermain video games, dan berjalan jalan, meskipun Hazel harus menggeret tabung oksigennya setiap saat dan gaya menyetir Gus yang urakan dikarenakan kaki palsu Gus tidak bisa merasakan tekanan. Mereka adalah dua remaja cerdas dan kritis yang memilih untuk berfokus pada “Keistimewaan Kanker” daripada keterbatasan fisik mereka. Keistimewaan Kanker adalah hal-hal kecil yang didapat oleh anak anak penderita kanker dan tidak didapat oleh anak biasa: bola basket yang ditanda tangani pahlawan olahraga, bebas menyerahkan PR terlambat, SIM yang tidak patut diterima dll.

Suatu saat, Gus menggunakan jatah Keistimewaan Kanker dari The Genies (organisasi rekaan dari Make-A-Wish Foundation) yang belum ia gunakan untuk mengujungi Peter Van Houten di Amsterdam, seorang penulis novel favorit Hazel. Berkat novelnya, An Imperial Affliction, Hazel menganggap Peter Van Houten adalah satu orang yang bisa memahami bagaimana rasanya kehilangan dan sekarat dan terobsesi untuk mengetahui sekuel novel tersebut setelah ending yang mendadak dan tragis. Bersama sama, mereka mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dan mengejutkan mengenai kehidupan, cinta dan masa depan.

Novel ini mengajarkan kita untuk sabar dalam menghadapi kesulitan, entah dengan humor gelap atau dengan optimisme bahwa hari esok akan lebih baik. Dan membuat kita merenungkan kembali keterbatasan waktu kita di dunia ini dan bagaimana cara untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.

“You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.”

***

Penulis :

tifany_author

Tifany Aprillia

@tfnytfny

Laid Back, Humorous & Window Shoppers

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s